Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan

Nama eBook: Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Mukhtar as-Sidawi خفظه الله

Pengantar:

Istilah “tahlilan” atau “slametan” sudah sangat populer di telinga kita semua, lantaran sudah menjadi adat istiadat klasik dan tradisi mayoritas kaum muslimin termasuk negeri Indonesia Raya ini, baik pedesaan maupun perkotaannya. Ritual yang satu ini seakan sudah mendarah daging dan menjadi prevalensi (kelaziman) yang mengikat masyarakat tatkala tertimpa musibah kematian sehingga sangat jarang keluarga yang tidak menyelenggarakan ritual ini karena takut diasingkan masyarakatnya.

Ironinya, mereka menganggap ritual ini merupakan salah satu bentuk ibadah. Mereka juga mencuatkan opini publik bahwa ritual ini adalah ciri khas penganut madzhab Syafi’i.

Benarkah demikian…sama sekali tidak bahkan bertolak belakang dengan para ulama madzhab Syafi’iyah dimana mereka mengingkari dengan tegas ritual semacam ini dengan bebagai variasinya…apa iya?!

Ya..itu benar lihatlah perkataan para ulam Syafi’iyyah berikut:

1. Imam Syafi’i berkata:

“Dan saya membenci berkumpul-kumpul (dalam kematian) sekalipun tanpa diiringi tangisan karena hal itu akan memperbaharui kesedihan dan memberatkan tanggungan (keluarga mayit) serta berdasarkan atsar (hadits) yang telah lalu. “

2. Imam Nawawi mengutip perkataan Imam Ibnu Shabbagh:

“Adapun apabila keluarga mayit membuatkan makanan dan mengundang manusia untuk makan-makan, maka hal itu tidaklah dinukil sedikit pun bahkan termasuk bid’ah, bukan sunnah.”

3. Imam Fairuz Abadi berkata:

“Biasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم takziah kepada keluarga mayit dan menyuruh mereka agar bersabar. Dan bukan kebiasaan jika mereka berkumpul untuk mayit, membacakan al-Qur’an untuknya, dan mengkhatamkan al-Qur’an untuknya, baik di kuburannya atau lainnya. Kumpul-kumpul seperti itu adalah bid’ah yang tercela. “

4. Imam Ibnu Nahhas mengatakan ketika menjelaskan tentang bid’ah-bid’ah seputar jenazah:

“Dan antaranya adalah apa yang dilakukan oleh kerabat mayit berupa membuat makanan dan selainnya, dan mengundang manusia kepadanya serta membaca khataman. Barangsiapa yang tidak melakukan hal itu maka seakan-akan telah meninggalkan suatu kewajiban. Hal ini jika diambil dari harta ahli waris yang boleh dipergunakan maka hukumnya bid’ah tercela, tidak ada contohnya dari salaf shalih. Dan jika dari peninggalan untuk anak yatim atau orang yang tidak ada padahal mayit tidak mewasiatkan harta tersebut maka haram memakannya dan menghadirinya serta wajib mengingkari dan melarangnya. “

Selain keempat Imam tersebut disebutkan pula dalam eBook ini pengingkaran Imam Madzhab Syafi’iyyah lainnya, yakni Imam as-Sirazi, al-Hafizh As-Suyuti, Imam al-Munawi, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ali Mahfuzh dan Syaikh Ahmad bin Hajar alu Buthami –semoga Allah merahmati mereka semua-.

Kami berharap dengan membaca eBook ini akan menjadikan kita kembali kepada yang haq, bukankah kebenaran lebih berharga dari mencari ridha manusia, apatah lagi dengan menyalahi sunnah nabi yang mulia, tauladan yang sempurna Muhammad صلى الله عليه وسلم … dan Allah-lah yang memberi taufik.

Download:
Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan

Download CHM atau Download ZIP mirror Download CHM atau Download ZIP

Tulisan dan Biografi Imam Madzhab Syafi’i silahkan Baca eBook-eBook dalam tulisan Madzhab Syafi’i

Iklan

Perihal Ibnu Majjah
Penuntut Ilmu, [Insya Allah] bermanhaj Ahlussunnah

10 Responses to Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan

  1. sapi says:

    janganlah mengutip pendapat ulama sebagian akan tetapi kutiplah secara keseluruhan

  2. M. Fauzi A. Alkaff says:

    Alasan sederhana dengan mengutip rawi hadist dimaksud tanpa sumber lain termasuk Al Qur’an !

  3. Abdul Aziz says:

    Assalamualaikum akhi

    • Ibnu Majjah says:

      Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
      Semoga Allah menjaga dan memberkahi akhi, keluarga dan harta akhi
      Maaf baru saya revlay sekarang pertanyaan akhi sebelumnya…
      Pertama: Saya bukan Ustadz, sebaiknya silahkan bertanya ke web penulis eBook ini di http://www.abiubaidah.com
      Kedua: tidak semua pertanyaan bisa dijawab karena keterbatas ilmu dan waktu
      Ketiga: Amalan tahlilan dan segala isinya -adalah bid’ah- dan tidaklah bermanfaat bagi mayit, hanya saja sangat banyak amalan yang bermanfaat bagi mayit bila dikerjakan sesuai tununan nabi yang bisa di baca di http://abufawaz.wordpress.com/2009/11/29/amalan-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit/
      Keempat: menyerupai tidaklah seperti yang akhi pahami, tetapi maksudnya bila seseorang menyerupai sebuah kaum maka ia akan digolongkan dalam kaum tersebut, bila menyerupai kaum yang jelek maka mengikut kepada yang jelek tersebut, namun bila menyerupai kaum yang sholeh dan mencintai mereka maka ia akan masuk golongan tersebut, sebagai mana sabda Rasululah shallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” silahkan lihat tahrijnya di http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/01/takhrij-hadits-barangsiapa-yang.html
      Bila harta tidak dikeluarkan pada yang diperintahkan syariat -malah dibelanjakan kepada yang menyelisihi syariat- maka itu pemborosan
      Harta warisan diberikan kepada ahli waris, maka bila dibelanjakan kepada yang lain maka itu mendzalimi ahli waris (silahkan baca seksama eBooknya)
      Memperbaharui kesedihan saya rasa itu sangat jelas (seperti bila kesedihan sudah reda, namun dengan tahlilan dan yang serupa [seperti haul] di hari 7,40,100, 1000,setiap tahun maka akan membuat hati kembali sedih)
      Terakhir acara tahlilan dan sejenisnya di bid’ahkan oleh para ulama diantaranya para ulama besar madzhab Syafi’i dan orang Indonesia secara umum menyandarkan dirinya kepada Madzhab ini..
      Wallahu a’lam dan yang benar dari Allah dan yang salah adalah dari kelemahan kami..
      Semoga Allah menunjuki kita semua dalam agama yang hanif ini dan istiqomah didalamnya, amin..

  4. arif says:

    Semoga dengan ilmu kita bisa menjadi perekat umat dan bukan untuk memecah belah.. Allahumma Amin…

  5. hamba Allah says:

    awas,jangan fanatik.. nanti umat islam bisa terpecah belah.. jangan buat kafir tertawa.

    tahlil baik, jika diniatkan karena Allah. dan jelas2 di dalam tahlil isinya dzikir kepada allah dengan disertai ayat2 Al Qur’an.

    • Ibnu Majjah says:

      Semoga Allah memberi petunjuk kepada saya dan anda..
      Benar kata antum, jangan fanatik buta, karena fanatik buta adalah penyakit yang membuat umat ini tenggelam dan tidak bisa bangkit menuju kecemerlangan…
      Lihatlah begitu gamlang penjelasan ulama atas haramnya tahlilan namun masih fanatik buta dengan alasan yang diyakini sendiri, para ulama lebih mengetahui itu ya saudaraku…
      Kembalilah kepada ahli ilmu bila kita tidak mengetahui..
      Bukan tradisi yang menjadi agama..
      Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua, amin..

    • egyalone says:

      Tahlilan itu ibadah baru dan sebuah karangan nenek moyang yg tidak dilakukan sama Nabi Muhammad SAW dan para sahabat2nya.berkumpul dirumah ahli mayit adalah bid`ah munkar dan sudah disahihkan oleh NU ketika muktamar NU di surabaya bahwa berkumpul dirumah mayit memperingati kematian adalah bi’dah .Apalagi tradisi 1,7,40,100,1000 adalah tradisi agama hindu,ada dan lihat saja dikitab agama hindu tanya saja sama orang hindu ada dalil untuk selamatan bagi orang yg meninggal dikitab mereka sedangkan di Al-Qur`an dan hadis tidak ada perintahnya.

  6. gunawan says:

    Tidak takutkah kita jikalau kelak diakherat ditolak oleh nabi karena kita telah menambah-nambah ajaran beliau, membuat hal-hal baru yang jelas-jelas beliau larang dan beliau ancam amalan mereka akan tertolak. Bukankah dengan menambah-nambah ibadah itu berarti kita menganggap ajaran rasul tidak sempurna, menganggap diri lebih pandai dari rasul padahal islam sudah sempurna dan rasul tidak mengajarkan sesuatupun melainkan dari wahyu? apakah amalan kita sudah sama 100% seperti rasul sehingga kita tambah-tambah? kalau tidak, kerjakan saja apa yang sudah rasul ajarkan sesempurna mungkin jangan ada tambahan,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s