Kesalahan-Kesalahan Ketika Sa’i dan Wukuf

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Ketika Sa’i dan Wukuf
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Sebelumnya telah kita ketengahkan kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan jama’ah haji sebelum berihrom, ketika berihrom, ketika bertalbiyah dan ketika thowaf, adapun pada eBook kali ini kita sajikan kesalahan-kesalahan ketika sa’i antara shofa dan marwa serta kesalahan-kesalahan ketika wukuf di arafah, diantara kesalahan tersebut ialah:

  1. Sengaja berwudhu untuk melakukan sa’i antara Shofa dan Marwa dengan keyakinan bahwa barangsiapa melakukan itu maka akan dituliskan tujuh puluh ribu derajat untuk setiap langkah kakinya,
  2. Naik ke bukit Shofa hingga menyentuhkan badan ke dinding,
  3. Melakukan sa’i empat belas putaran sehingga diakhiri di Shofa,
  4. Sholat dua rakaat setelah selesai sa’i,
  5. Terus melakukan sa’i antara Shofa dan Marwa sementara iqomat sudah dikumandangkan sehingga tidak ikut sholat beijamaah,
  6. Berwuquf di atas Gunung Arofah pada hari kedelapan pada jam tertentu untuk berjaga-jaga agar tidak salah menetapkan hilal,
  7. Menyalakan banyak lilin di malam Arofah di Mina,
  8. Berangkat ke Arofah sebelum waktu wuquf di pertengahan hari Arofah,
  9. Memasuki qubah yang ada di puncak bukit Rohmah yang disebut qubah Adam, sholat di situ bahkan berthowaf di sekelilingnya, seperti thowaf keliling Ka’bah,
  10. Sebagian haji beranjak dari Arofah sebelum terbenamnya matahari.

Download:

 Download PDF atau Download Word

Kesalahan-Kesalahan Ketika Thowaf

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Ketika Thowaf
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Telah kita ketengahkan sebelumnya kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan jama’ah haji sebelum berihrom, ketika berihrom dan talbiyah, dikesempatan yang mulia ini kita ketengahkan pula kesalahan-kesalahan ketika thowaf diantaranya:

  1. Mengenakan kaus kaki dan sejenisnya sehingga tidak menginjak lantai kamar mandi serta memakai sarung tangan agar tidak menyentuh wanita,
  2. Sholat tahiyyatul masjid khusus bila masuk Masjidilharom,
  3. Niat dengan mengucapkan, “Nawaitu bithowafi hadza ‘l-usbu’i kadza wa kadza”,
  4. Berebutan mencium Hajar Aswad serta mendahului imam dalam salam sholat agar bisa mencium Hajar Aswad tersebut,
  5. Saat berada di bawah tadahan air, berucap, “Allohumma azhillani fi zhillika yauma la zhilla ilia zhilluka wa ‘sqini bi ka’si sayyyidina Muhammad, syurbatan haniatan mariatan, la azhmau ba’daha abadan, ya Dza ‘l-Jalali wa ‘l-ikrom”,
  6. Sengaja melakukan thowaf saat hujan dengan keyakinan bahwa barangsiapa melakukan hal itu akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu,
  7. Mencium Rukun Yamani,
  8. Mencium dua Rukun Syam dan maqom Ibrohim atau mengusap-usap keduanya.

Download:

 Download PDF atau Download Word

Kesalahan-Kesalahan Sebelum dan Ketika Ihrom

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Sebelum dan Ketika Ihrom
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Berbagai kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan agama sudah sangat tersebar dan bahkan mendarah daging dan kadang seakan-akan itulah yang sesuai syariat agama, yang dinyatakan kesalahan dalam agama berpangkal pada beberapa masalah yang telah kita sebutkan sebelumnya (lihat link berikut), berikut akan disebutkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan haji saat sebelum ihrom dan ketika ihrom diantaranya:

  1. Sholat dua rakaat saat keluar untuk berhaji, di rakaat pertama membaca Al-Fatihah dan Al-Kafirun, sementara di rakaat kedua membaca Al-Ikhlash,
  2. Berdzikir dengan keras dan bertakbir ketika mengiringi jamaah haji dan saat menyambut kedatangan mereka,
  3. Azan saat melepas kepergian jamaah haji,
  4. Seorang lelaki berakad dengan seorang wanita yang sudah bersuami sementara ia tidak memiliki mahram untuk berhaji, sehingga terpaksa menumpang mahram kepada lelaki tersebut,
  5. Sholat safar dua rakaat setiap kali singgah di suatu tempat sambil berdoa, “Allohumma anzilni munzalam mubarokaw wa anta khoiru `l-munzilin”,
  6. Mengenakan terompah khusus untuk ihrom dengan ciri-ciri tertentu yang disebutkan dalam beberapa buku,
  7. Berhaji sambil membisu, tidak mau berbicara,
  8. Mengucapkan talbiyah secara berjamaah dan berirama,
  9. Mengunjungi gunung-gunung dan lokasi-lokasi sekitar Mekah, seperti Gunung Hira, gunung yang ada di Mina yang disinyalir merupakan lokasi Al-Fida, dan sejenisnya,
  10. Sengaja sholat di Masjid ‘Aisyah di Tan’im, dan lainnya.

Download:

 Download PDF atau Download Word

MASBUQ Dalam Sholat

Nama eBook: Masbuq Dalam Sholat
Disusun oleh: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc حفظه الله

الحمد الله، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Sudah dimaklumi, terkadang seorang yang bersemangat untuk mendapatkan takbiratul ihram bersama imam tidak bisa mendapatinya karena alasan dan uzur tertentu. Orang tersebut kadang terlambat dan tidak bisa menjadi makmum dari raka’at pertama. Inilah yang sering diistilahkan dengan istilah masbuq.

Masbuq dalam istilah para Ulama fikih adalah orang yang ketinggalan imam dalam sebagian raka’at shalat atau seluruhnya atau mendapati imam setelah satu raka’at atau lebih.

Apabila masbuq mendapatkan shalat berjamaah maka dia mengikuti imam dalam semua perbuatan shalat, lalu menyempurnakan yang terlewatkan, berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

ِإِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Apabila kalian telah mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang dan santai dan jangan terburu-buru. Yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan maka sempurnakanlah. (HR. Al-Bukhari, no. 636)

Kemudian bagaimanakah menyempurnakan sholat bila masbuq dan bagaimana pula hukum bermakmum kepada orang yang masbuq?!, temukan rinciannya dalam eBook ini…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDFatau Download Word

Sedekah: Keutamaan dan Variannya

Nama eBook: Sedekah: Keutamaan dan Variannya
Disusun oleh: Ali bin Muhammad ad-Dihami

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan yang paling mulia, nabi kita Muhammad, dan atas keluarga serta segenap sahabatnya. Amma ba’du:

Sedekah mempunyai keutamaan yang agung, yang sebagian diantaranya terus bermanfaat walau penginfaknya sudah wafat, sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, (yaitu) sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim)

Banyak keutamaan sedekah yang lain sebagaimana dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ صَدَقَةَ السِّرِّ تُطْفِيءُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Sesungguhnya sedekah yang tersembunyi, (dapat) meredam murka Allah Ta’ala” (Shahih at-Targhib)

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap orang berada di bawah naungan amalan sedekahnya, hingga digelar pengadilan di antara manusia” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masih banyak keutamaan sedekah lainnya yang diulas oleh penulis secara detil dengan menyertakan dalil dari Kitab dan Sunnah, kemudian ia menjelaskan sedekah-sedekah yang paling utama dan ditutup dengan jenis-jenis dari sedekah jariyah, mari kita simak dan semoga kita adalah orang yang mampu bersedekah setiap harinya, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDFatau Download Word

Apakah Hutang Menghalangi Kewajiban Zakat?

Nama eBook: Apakah Hutang Menghalangi Kewajiban Zakat?
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc حفظه الله

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد، أما بعد:

Salah satu syarat harta yang wajib dizakati adalah dimiliki secara penuh. Artinya bahwa seseorang memiliki harta tersebut secara penuh, tidak ada pihak lain yang bersyarikat dalam harta itu sehingga dia bebas menggunakan harta itu tanpa ada yang menghalanginya.

Permasalahan muncul pada harta hutang yang di satu sisi seseorang dapat menggunakannya secara bebas karena sudah menjadi miliknya, namun di sisi lain ada kewajiban mengembalikan kepada orang yang berpiutang, sehingga seakan-akan ada dua kepemilikan terhadap harta hutang itu. Apalagi saat ini, banyak sekali orang yang mengembangkan proyek bisnis dengan hutang yang muncul dari transaksi bisnis yang bisa berefek kepada pembayaran zakat.

Apabila kita memiliki harta tapi juga memiliki hutang, apakah hutang tersebut berpengaruh dalam zakatnya? temukan jawabannya dalam eBook berikut…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

5 Pelajaran dari Ibadah Qurban dan Haji

Nama eBook: 5 Pelajaran dari Ibadah Qurban dan Haji
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله

Segala puji bagi Allah, pujian yang terbaik untuk-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari berbangkit. Amma ba’du:

Insya Allah sebentar lagi akan datang puncak pelaksanaan haji dan ibadah qurban 1437 H, kemudian apa saja pelajaran yang bisa kita ambil dari ibadah qurban dan haji? dalam eBook ini penulis -semoga Allah menjaganya- mensarikan lima pelajaran yang semoga bermanfaat bagi kita sekalian, yakni:

  1. Belajar Ikhlas
  2. Belajar Mengikuti Tuntunan Nabi
  3. Belajar untuk Sedekah Harta
  4. Belajar untuk Meninggalkan Larangan
  5. Belajar untuk Rajin Berdzikir

Silahkan menyimak uraian lima hal tersebut, dan kami berdo’a agar ibadah haji, ibadah qurban dan ibadah kita yang lainnya diterima disisi-Nya, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Khutbah Jum’at: Didik Keluargamu Menjaga Shalat

ِAlhamdulillah, kita memuji Azza wa Jalla, selanjutnya shalawat dan salam  bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan mereka yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari berbangkit.

Kedudukan shalat sangatlah agung. Bila diperhatikan, banyak kelalaian berasal dari pihak orang tua. Masih ada orang tua yang menyia-nyiakan shalat. sehingga ia tidak bisa menjadi contoh baik untuk anak-anaknya. Sehingga anakanaknya tumbuh dengan melalaikan dan menyianyiakan shalat. Karena mereka tumbuh sesuai dengan didikan orang tua.

Sungguh, perilaku orang tua yang menyepelekan masalah shalat terhadap anak-anaknya, merupakan perilaku yang sangat buruk. Perhatikanlah ucapan Imam lbnu Qayyim Al -Jauziyyah rahimahullah yang mengkhususkan para bapak dalam masalah yang sangat penting ini. Beliau berkata: “Barangsiapa tidak memperhatikan untuk mengajarkan hal bermanfaat kepada anaknya, namun justru ia meninggalkannya begitu saja, maka sungguh ia telah berbuat sangat buruk sekali kepada sang anak. Yang sering terjadi, rusaknya anak disebabkan karena orang tua, yang tidak memperhatikan mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajibankewajiban dan sunnah-sunnah agama. Para bapak telah menyia-nyiakan mereka saat kecil. Sehingga sang anak tidak bisa bermanfaat bagi dirinya, dan juga tidak bisa memberi manfaat kepada orangtua mereka di saat dewasa.”

Baca pos ini lebih lanjut

Hikmah, Hukum dan Manfaat Haji

Nama eBook: Hikmah, Hukum dan Manfaat Haji
Penulis: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz رحمه الله

Pengantar:

Segala puji bagi Allah yang menguasai segala alam, balasan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa, shalawat dan salam semoga terlimpa pada hamba dan Rasul-Nya, kekasih dan orang pilihan dari hamba-hamba-Nya Nabi Muhammad bin Abdullah, keluarganya, shahabatnya, orang yang meniti di atas jalannya serta orang-orang yang mengambil petunjuknya sampai hari akhir, Amma ba’du:

Syaikh bin Baz diawal risalah setalah memuji Allah عزّوجلّ dan bershalawat untuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mengatakan bahwa haji adalah syi’ar yang agung dimana padanya terdapat maslahat yang besar, saling mengenal dan tolong menolong dalam hal kebaikan, saling menasehati, tafaqquh fiddin, menegakkan kalimat Allah, mengesakan Allah, ikhlas dan lainnya yang merupakan maslahat serta manfaat besar yang tidak dapat dihitung, kemudian beliau berkata:

Dan di antara rahmat Allah عزّوجلّ, Dia mewajibkan haji bagi semua kaum muslimin di timur maupun barat. Kewajiban haji adalah umum bagi laki-laki, wanita, bangsa arab, bangsa asing, penguasa maupun rakyat dengan syarat mempunyai kemampuan, sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS. Ali Imran/3:97)

Kewajiban haji adalah sekali selama hidup. Sebagaimana hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم saat ditanya, ya Rasulullah, apakah haji itu wajib dilaksanakan setiap tahun? Beliau menjawab:

لَا وَلَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ الْحَجُّ مَرَّةٌ فَمَا زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ

“Sekiranya saya katakan ya, maka pasti haji akan diwajibkan setiap tahun, namun kewajiban haji itu sekali dalam seumur hidup, siapa yang malaksanakannya lebih dari sekali, maka itu adalah sunnah”

Kemudian syaikh -semoga Allah merahmatinya- menyampaikan berbagai hal terutama hikmah, manfaat dan hukum ringkas seputar haji; semoga kaum muslimin yang akan melakukan haji tahun ini (1437 H) dan tahun-tahun berikutnya mendapat haji yang mabrur, amin…

Download:

Download PDFatau Download Word

Bid’ah-Bid’ah di Bulan Ramadhan

Nama eBook: Bid’ah-Bid’ah di Bulan Ramadhan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Bulan yang mulia, bulan Ramadhan, bulan ladang untuk mengumpulkan banyak kebaikan disisi Allah Tabaraka wa Ta’ala, namun karena ketidaktahuan dan atau nafsu maka banyak kaum muslimin yang membuat-buat (mengkreasikan) ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam agama pada bulan ini.

Semestinya setiap kita mengetahui bahwa ibadah mestilah sesuai dengan tuntunan agama melalui al-Qur’an dan hadits yang shahih lagi sharih (jelas). Sebenarnya banyak perkara bid’ah yang terjadi karena mengkhususkan atau mengkreasikan ketentuan dalam ibadah tersebut, untuk memahaminya mari kita simak dua contoh berikut…

Pertama: membaca Al-Qur’an disyariatkan dalam agama ini, namun mengkhususkan surat al-Kahfi pada hari jum’at perlu landasan hukum (baca: dalil) dari al-Qur’an dan atau Hadits yang shahih (valid) lagi sharih (jelas) dan ternyata ada dalilnya, yakni  hadits:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jum’at. (Hadits shohih, diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrok II/399 no.3392, dan Al-Baihaqi di dalam Sunannya III/249 dengan nomor.5792)

sebab hadits tersebut shahih lagi jelas maksudnya maka mengkhususkan dan mengutamakan membaca surat al-Kahfi pada hari jum’at adalah sunnah…

Kedua: Melakukan amal ketaatan dianjurkan pada malam-malam ramadhan dan menggiatkannya pada malam-malam yang besar harapan malam qadr yakni di 10 malam terakhir ramadhan terutama pada malam ganjilnya; shalat adalah amalan yang mulia dan pada malam ramadhan disunnahkan shalat tarawih; namun mengkhususkan shalat di malam (diduga kuat) lailatul qadr dengan jumlah rakaat 100 kali dan dinamai shalat lailatul qadr perlu kepada dalil dari al-Qur’an dan Hadits yang shahih lagi jelas tentang hal ini, dan ternyata dalil tersebut tidak ada, maka amalan tersebut adalah bid’ah…

Download:

Download Word atau Download PDF