Khutbah: Bahaya Menghina Agama

ِAlhamdulillah, kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya yang telah memberi kita berbagai nikmat yang sangat banyak lagi tak terhitung banyaknya, kemudian shalawat beserta salam  bagi Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Dewasa ini banyak manusia termasuk kaum -yang mengaku ia seorang muslim- memperolok-olok dan menghina agama islam; dan banyak pula dari kaum -yang mengaku ia seorang muslim- membela para penghina agama islam; lihatlah kisah berikut:

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari Perang Tabuk, di mana beliau dan juga para sahabat mendapatkan cobaan yang berat, salah seorang munafik berkata di suatu majlis mereka, “Tidak pernah kami melihat seperti ahli Quran kita! Mereka itu orang yang paling rakus perutnya, paling dusta lidahnya, dan paling pengecut tatkala berjumpa musuh!” Lalu seseorang di dalam majlis tersebut berkata, “Engkau dusta! Akan tetapi engkau ini adalah seorang munafik! Sungguh, akan aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” Namun wahyu telah mendahului kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan turunlah ayat al-Quran berkenaan dengan hal itu. Orang yang melecehkan tersebut pun datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, meminta maaf atas hal tersebut. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sama sekali tidak melihat atau menoleh kepada orang tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam hanya sekedar mengucapkan,

أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… (QS. At-Taubah/9: 65-66)

Semoga kaum muslimin kembali dan masuk kepada agamanya secara kaffah (menyeluruh), meningkatkan rasa kasih sayang diantara mereka dan keras terhadap kafirin…

Download:
Download PDF mirrorDownload PDF

Kamus Istilah Islam Edisi Kelima

Khazanah Istilah

eBook ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Pada edisi ini berhubungan erat dengan Ilmu Hadits, kami (Ibnu Majjah) mengutipnya dari terjemahan kitab Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah,  pada ‘Daftar Istilah Ilmiah’ oleh editor kitab tersebut, hal. 8-12, terbitan Pustaka Sahifa-Jakarta. Semoga bermanfaat.

No Kata Penjelasan
 1. Al-‘Adalah Potensi (baik) yang dapat membawa pemiliknya kepada takwa, dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan orang banyak. Predikat ini dapat diraih seseorang dengan syarat-syarat: Islam, baligh, berakal sehat, takwa, dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik.Dalam definisi lain, rawi yang adil ialah: yang meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil.
 2. Al-Jarh (at-Tajrih) Celaan yang dialamatkan pada rawi hadits yang dapat mengganggu (atau bahkan menghilangkan) bobot predikat “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus” dari dirinya.
 3. Al-Jarh wa at-Ta’dil Pernyataan adanya cela dan cacat, dan pernyataan adanya “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus” pada seorang rawi hadits.
 4. Al-Mutaba’ah Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.
 5. Ashhab as-Sunan Para ulama penyusun kitab-kitab “Sunan” yaitu: Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah.
 6. Ash-Shahihain Dua kitab shahih yaitu: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
 7. Asy-Syaikhain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
 8. At-Ta’dil Pernyataan adanya “al-‘Adalah” pada diri seorang rawi hadits.
 9. Hadits Ahad Hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir
 10. Hadits Dha’if Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits hasan, dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.
 11. Hadits Hasan Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki hafalan yang sedang-sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
 12. Hadits Masyhur Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih dalam setiap tabaqah, tetapi belum mencapai derajat mutawatir.
 13. Hadits Matruk Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh sebagai pendusta.
 14. Hadits Maudhu’ Hadits dusta, palsu dan dibuat-buat yang dinisbahkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
 15. Hadits Munkar Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang dha’if (lemah) dan bertentangan dengan riwayat rawi yang tsiqah (kredibel).
 16. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang rawi dalam setiap tabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.
 17. Hadits Shahih Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan yang hebat) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
 18. Ihalah Isyarat yang diberikan seorang muallif, berupa tempat yang perlu dirujuk berkaitan dengan hadits atau masalah bersangkutan.
 19. Illat Sebab yang samar yang terdapat di dalam hadits yang dapat merusak keshahihannya.
 20. Inqitha’ Terputusnya rangkaian sanad. Dalam sanadnya terdapat inqitha’, artinya: dalam sanad itu ada rangkaian yang terputus.
 21. Jahalah Tidak diketahui secara pasti, yang berkaitan dengan identitas dan jati diri seorang rawi.
 22. Layyin Lemah
 23. Lidzatihi Pada dirinya (karena faktor internal). Misalnya: Shahih Lidzatihi, ialah, hadits yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya, tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal.
 24. Lighairihi Karena didukung yang lain (karena faktor eksternal). Misalnya: Shahih Lighairihi ialah hadits yang hakikatnya adalah hasan, dan karena didukung oleh hadits hasan yang lain, maka dia menjadi shahih lighairihi.
 25. Majhul Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seorang saja.
 26. Majhul al-‘Adalah Tidak diketahui kredibelitasnya.
 27. Majhul al-‘Ain Tidak diketahui identitasnya.
 28. Majhul al-Hal Tidak diketahui jati dirinya.
 29. Maqthu’ Riwayat yang disandarkan kepada tabi’in atau setelahnya, berupa ucapan atau perbuatan, baik sanadnya bersambung atau tidak bersambung.
 30. Marfu’ Yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم baik ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat; baik sanadnya bersambung atau terputus.
 31. Mauquf (Riwayat) yang disandarkan kepada sahabat, baik perbuatan, ucapan atau taqrir. Atau riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada sahabat, dan tidak sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, baik sanadnya bersambung ataupun terputus.
 32. Mu’allaq (Hadits) yang sanadnya terbuang dari awal, satu orang rawi atau lebih secara berturut-turut, bahkan sekalipun terbuang semuanya.
 33. Mubham Rawi yang tidak diketahui nama (identitas)nya.
 34. Mudallis Rawi yang melakukan tadlis.
 35. Mu’dhal Hadits yang di tengah sanadnya ada dua orang rawi atau lebih terbuang secara berturut-turut.
 36. Munqathi’ Hadits yang di tengah sanadnya ada rawi yang terbuang, satu orang atau lebih, secara tidak berurutan.
 37. Mursal (Hadits) yang sanadnya terbuang dari akhir sanadnya, sebelum tabi’in.Gambarannya, adalah apabila seorang tabi’in mengatakan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, …” atau “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melakukan ini dan itu …”.
 38. Nakarah Makna hadits yang bertentangan dengan makna riwayat yang lebih kuat. Bila dikatakan, “Dalam hadits tersebut terdapat nakarah” artinya, di dalamnya terdapat penggalan kalimat atau kata yang maknanya bertentangan dengan riwayat yang shahih.
 39. Syadz Apa yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang pada hakikatnya kredibel, tetapi riwayatnya tersebut bertentangan dengan riwayat rawi yang lebih utama dan lebih kredibel dari dirinya.
 40. Syahid Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.
 41. Tadh’if Pernyataan bahwa hadits atau rawi bersangkutan dha’if (lemah).
 42. Tadlis Menyembunyikan cela (cacat) yang terdapat di dalam sanad hadits, dan membaguskannya secara zhahir.
 43. Tahqiq Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.
 44. Tahsin Pernyataan bahwa hadits bersangkutan adalah hasan.
 45. Takhrij Mengeluarkan suatu hadits dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dhaif.
 46. Ta’liq Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, atau derajat hadits dan sebagainya yang biasanya berbentuk cacatan kaki.
 47. Targhib Anjuran, atau dorongan, atau balasan baik.
 48. Tarhib Ancaman, atau balasan buruk.
 49. Tashhih Pernyataan shahih.
 50. Tsiqah Kredibel, di mana pada dirinya terkumpul sifat al-‘Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).

Download:
 Download PDF mirrorDownload PDFatau Download Word

Keutamaan Ilmu Agama Atas Ibadah

Nama eBook: Keutamaan Ilmu Agama Lebih Agung Dari Keutamaan Ibadah
Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas, MA حفظه الله

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ

“Keutamaan ilmu (syar’i) lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah.” (HR. Al-Hakim, Al-Bazzar, At-Thoyalisi, dari jalan Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani dalam Shohih Al-Jami’, no.4214).

Dan di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ على الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

Sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah, seperti keutamaan bulan di malam purnama dibanding seluruh bintang- bintang.” (HR. Abu Dawud no.3641, Ibnu Majah no.223, dari hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu).

Simak maksud dan faedah kedua hadits tersebut dalam eBook dibawah ini…

Download:

Download CHM atau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

48 Fatwa Seputar Zakat

Nama eBook: Fatwa Seputar Zakat
Penulis: Para Ulama dan Asatidz

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد

Pada eBook zakat sebelumnya yakni Risalah Zakat versi CHM, kami berkata “….pada kedua sumber disertakan beberapa fatwa yang berbeda pada kedua sumber, kami tidak menyertakannya pada eBook ini dan Insya Allah akan kami compile tersendiri…”, dan Alhamadulillah kami -dengan pertolongan Allah- telah dapat merealisasikan hal itu dikesempatan yang mulia ini.

eBook ini berisi 48 persoalan yang dijawab para ulama dan asatidz diantaranya Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Imam Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Imam al-Albani, Syaikh Ibnu Jibrin, Dr. Erwnadi Rarmizi dan lainnya, adapun 48 persolan tersebut adalah: Baca pos ini lebih lanjut

Pembaharuan Agama: Ulama VS Juhala

Nama eBook: Pembaharuan Agama: Antara Pemahaman Ulama dan Juhala
Penyusun: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi حفظه الله

Dalam muqoddimah penulis -semoga Allah menjaganya- mengatakan:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menginformasikan bahwa akan senantiasa ada sebagian kelompok kaum muslimin yang memperbaharui agama. Namun, apa yang dimaksud dengan pembaharuan agama dan siapakah pembaharu agama?! Pertanyaan tersebut sangat penting untuk diketahui jawabannya karena pada zaman sekarang sebagian kalangan yang menyimpang telah mencomot kata tajdid (pembaharuan agama) untuk meracuni Islam dengan pemikiran-pemikiran sesat yang jauh dari Islam dan pemahaman ulama kaum muslimin. Semua itu mereka lakukan dengan alasan “pembaharuan agama”, padahal sebenarnya mereka telah merusak dan meruntuhkan pondasi-pondasi agama.

Propaganda “pembaharuan agama” ini sangat berbahaya, tampaknya indah tetapi ternyata mengandung racun yang berbahaya. Bahkan tidak salah kalau dikatakan bahwa propaganda ini adalah permainan orang-orang kafir, sebab mereka memahami—setelah pengalaman yang lama—bahwa menghancurkan Islam dari luar sangatlah berat, maka mereka berusaha untuk menghancurkan Islam dari dalam.

Ironisnya, propaganda menipu tersebut ternyata telah berhasil memakan korban sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan ilmu. Oleh karenanya, kita akan membahas hadits tentang pembaharuan agama dan maknanya menurut para ulama. Semoga Alloh menjauhkan kita dari segala fitnah.

Download:

Download CHMatau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Perbedaan Agama Memutus Waris & Perwalian

Nama eBook: Kaidah Fikih: Perbedaan Agama Memutus Waris & Perwalian
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

Alhamdulillah segala puji bagi Allah ta’ala Rabb semesta alam, shalawat dan salam buat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang dijanjikan, Amma ba’du:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

اخْتِلاَفُ الدِّيْنِ يَقْطَعُ التَّوَارُثَ وَكَذِلِكَ وِلاَيَةَ التَّزْوِيْجِ

Perbedaan agama memutus hubungan saling mewarisi juga wali pernikahan.

Kaidah ini adalah salah satu kaidah yang telah disepakati para ulama berdasarkan dalil-dalil yang ada. Seperti biasa penulis -semoga Allah ta’ala menjaganya- menjelaskan makna kiadah dan dalilnya serta penerapan kaidah ini, pada laman ini akan kami kutip contoh penerapan kaidah ini:

  1. Jika ada seorang muslim yang meninggal dunia meninggalkan tiga orang anak laki-laki. Salah satunya kafir. Maka anak yang kafir tersebut tidak mendapatkan bagian warisan sama sekali, keberadaannya sama sekali tidak dianggap. Sebab itu, harta waris dibagi dua dan diberikan sama rata antara kedua anak laki-lakinya yang muslim.
  2. Sebaliknya jika ada seorang bapak yang kafir meninggal dunia, dia meninggalkan anak-anaknya yang muslim. Maka tidak ada seorang pun dari anaknya yang berhak mendapatkan warisan. Harta warisnya diambil alih oleh baitul-mal. Hanya, boleh bagi mereka untuk mendapatkan wasiat dari ayahnya yang kafir karena mereka berhak mendapatkan wasiat disebabkan mereka bukan ahli waris.
  3. Jika ada seorang wanita muslimah ingin menikah, sedangkan bapaknya kafir, maka bapaknya tidak boleh untuk menjadi wali pernikahannya. Dan perwaliannya bergeser pada wali yang lebih jauh, kakek (bapaknya bapak), saudara kandung, atau lainnya yang muslim.

 Wallahu A’lam.

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Yang Tidak Penyayang Tidak Disayang

Nama eBook: Yang Tidak Penyayang Tidak Disayang
Penulis: Ustadz Abu Aiisah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيِ مُحَمَّدٍ صَلَيْ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّالأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٌ ضَلَالَةٍ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، أما بعد

Imam Bukhari dalam Shahih-nya menceritakan dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya dia berkata,

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الْأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Suatu hari, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mencium cucunya yang bernama Hasan bin Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهما. Saat itu, di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم ada seorang sahabat yang bernama al-Aqra’ bin Habis at-Tamimi رضي الله عنه. Melihat sikap Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang begitu penyayang kepada cucunya, al-Aqra’ berucap, Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak pernah aku mencium seorang pun dari mereka.’ Rasulullah صلى الله عليه وسلم lantas berujar, ‘Barangsiapa yang tidak penyayang, maka tidak akan disayang.’” (HR. al-Bukhari: 5621)

Demikianlah agama Islam sangat mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk kepada anak. Dalam eBook ini akan dijelaskan contoh-contoh menyayangi anak dari akhlak Rasullullah صلى الله عليه وسلم, walau eBook ini ditulis untuk para ibu namun isinya adalah untuk kita semua, semoga Allah menganukrahi kita sifat kasih dan sayang, amin…

Download:
Download CHMmirror Download CHMatau Download PDF atau Download Word

Benang Tipis Kemudahan

Nama eBook: Benang Tipis Kemudahan
Penulis: Ustadz Aris Munandar حفظه الله

Pengantar:
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (keringanan)-Nya dimanfaatkan sebagaimana Allah tidak suka jika kemaksiatan dilaksanakan.” (HR Ahmad no. 5866, shahih)

Rukhshah dalam bahasa Arab bermakna kelembutan, kelapangan, dan kemudahan. Sementara itu, dalam bahasa para ulama, rukhshah atau keringanan memiliki dua pengertian:

Pertama: Keringanan hukum yang diberikan oleh syari’at. Inilah pengertian rukhshah yang dimaksudkan dalam hadits di atas.

Kedua: Rukhshah dalam pengertian hukum yang ringan dan mudah yang difatwakan oleh sebagian ulama fiqih dan hukum tersebut jelas bertentang-an dengan ijma’ atau dalil tegas dari al-Qur’an dan Sunnah.

Rukhshah dalam pengertian semacam ini disebut juga zallah ‘alim (ketergelinciran ulama) dan qaul syadz (pendapat yang nyeleneh).

Rukhshah dalam pengertian kedua ini tidaklah dimaksudkan dalam hadits di atas.

Hal tersebutlah yang dibahas penulis dalam eB0ok ini dan kesalahpahaman mengartikan hadits diatas. Untuk menambah pemahaman dalam topik ini kami tambahkan [pada versi .chm]:

  1. Tatabbu’ Rukhosh adalah awal kehancuran oleh ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Syaifullah حفظه الله, dan
  2. Ikhtilaf bukanlah Hujjah oleh redaksi Majalah al-Furqon

Download:

Download CHM mirror-1 Download CHM mirror-2 Download CHM dan Download Word atau Download PDF

Dalil Menolak Pluralisme Agama

Nama eBook: Menolak Pluralisme Dengan Hujjah
Penulis: Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah خفظه الله

Pengantar:

Alhamdulillah, kemudian sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du…

Salah satu sekte paling berbahaya ialah sektenya orang-orang yang ragu akan kebenaran Islam, hingga mereka –walau mengaku muslim– menganggap agama Islam dan Agama lainnya adalah sama, kebenarannya relatif, hingga agama manapun yang dipilih tujuannya adalah Allah dan semuanya berhak dengan surga.

Baca pos ini lebih lanjut

Landasan Beragama Ulama Syafi'iyyah

Nama eBook: Landasan Beragama Ulama Syafi’iyyah
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA خفظه الله

Pengantar:

Alhamdulillah, sholawat berseta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya رضي الله عنهم dan yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Amma ba’du…

Keistimewaan ahlus sunnah -termasuk para ulama madzhab Syafi’i- adalah bahwa sumber ber­agama mereka dalam seluruh permasalahan agama sangatlah lurus dan benar sehingga me­reka selamat dari bermacam-macam kebatilan dan pertentangan yang menimpa ahlulbid’ah wal ahwa’. Sebabnya tiada lain adalah ahlussun­nah menjadikan al-Qur’an dan Sunnah landasan utama dan sumber pengambilan dalil (rujukan) dalam segala permasalahan agama baik aqidah, ibadah, maupun akhlak.

Baca pos ini lebih lanjut