Adab dan Pembagiannya

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali -semoga Allah menjaganya- dalam kitabnya Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhish Shaalihin pada kitab Adab sebelum mensyarah ayat-ayat dan hadits-hadits dalam kitab Imam an-Nawawi tersebut menuliskan:

Di dalam kitabnya Madaarijus Saalikiin (11/375-391), Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله mengatakan:

Yang dimaksud dengan adab adalah kumpulan berbagai kriteria kebaikan pada diri seorang hamba, la merupakan ilmu perbaikan lidah, percakapan, dan penempatannya sesuai sasaran, perbaikan terhadap kata-kata, serta pemeliharaan dari kesalahan dan ketergelinciran.

Adab ini terdiri dari tiga macam, yaitu: Adab kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan syari’at-Nya, dan adab bersama sesama makhluk.

Adab kepada Allah-pun terdiri dari tiga macam, yaitu:

Pertama : Memelihara hubungan dengan-Nya agar tidak tercampuri dengan kekurangan.
Kedua    : Memelihara hati agar tidak berpaling kepada selain Dia.
Ketiga   : Memelihara keinginan agar tidak bergantung kepada hal-hal yang memancing amarah-Nya.

Baca pos ini lebih lanjut

Munafik: Defenisi dan Jenisnya

Nama eBook: Nifak: Defenisi dan Jenisnya
Penulis: Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan حفظه الله

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينامحمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Nifak secara bahasa berarti salah satu jalan keluar yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya. Karena yarbu’, jika dicari dari lobang yang satu, maka ia lari dan akan keluar dari lobang yang lain.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata nifaq berasal dari kata النَّفَقُ (nafaq) yaitu lobang tempat bersembunyi.

Sedangkan nifak menurut syara’ berarti menampakkah keislaman dan kebaikan serta menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Perbuatan seperti ini dinamakan nifak karena dia masuk dalam syari’at dari satu pintu lalu keluar dari pintu yang lain.

Di awal surat al-Baqarah, Allah عزّوجلّ menyebutkan tiga golongan manusia yaitu kaum Mukminin, kaum kuffar dan kaum munafik. Allah عزّوجلّ menyebutkan tentang kaum Mukminin dalam empat ayat, tentang kaum kuffar dalam dua ayat dan tentang kaum munafik dalam tiga belas ayat. Ini karena banyaknya jumlah mereka dan meratanya ujian diakibatkan perilaku mereka serta beratnya fitnah yang diakibat oleh mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin. Karena mereka dinisbatkan ke dalam Islam, sebagai penolongnya dan orang-orang yang loyal terhadap Islam, namun sejatinya mereka adalah musuh Islam.

Nifak ada dua jenis yakni Nifak I’tiqadi dan Nifak ‘Amali, Nifak I’tiqadi (Keyakinan) adalah Nifak Akbar (besar) di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifak ini menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam secara total dan dia akan berada di dalam neraka yang paling bawah dan mereka ini lebih berbahaya dari pada orang kafir yang menunjukkan kekafirannya.

Sedang Nifak ‘Amali adalah Nifak Kecil yang pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafik, tetapi masih tetap memiliki iman di dalam hati. Nifak jenis ini tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama, namun itu merupakan wasilah (perantara) yang berpotensi mengantarkan kepada yang demikian.

Demikian sekilas kandungan eBook ini, kita memohon kepada Allah yang membolak balik-kan hati agar menetapkan hati kita dalam agama islam dan menjauhkan kita dari kemaunafikan, amin…

Download:
 Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Defenisi dan Cakupan Ibadah

Nama eBook: Makna dan Cakupan Ibadah
Penulis: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Allah عزّوجلّ telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat/51:56)

Allah memberikan ujian dengan perintah ibadah, melaksanakan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah  عزّوجلّ  berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk/67: 2)

Secara Istilah “Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.”

Ibadah dalam agama Islam mencakup ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah:

Ibadah mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya memang merupakan ibadah, berdasarkan nash atau lainnya yang menunjukkan perkataan dan perbuatan tersebut haram dipersembahkan kepada selain Allah  عزّوجلّ.

Ibadah ghairu mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya bukan ibadah, akan tetapi berubah menjadi ibadah dengan niat yang baik.

Demikian sekilas penjelasan tentang ibadah, dalam eBook dijelaskan lebih luas akan makna ibadah dan pembagian ibadah, sebab pentingnya kita mengetahui makna ibadah dan cakupannya, mari kita ilmu dan amalkan isi eBook ini sehingga kita bisa mengisi hidup kita dengan ibadah untuk bisa meraih ridha Allah…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Keutamaan Tauhid dan Bahaya Syirik

Nama eBook: Keutamaan Tauhid dan Bahaya Syirik
Penulis: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawas, MA حفظه الله

الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:

Tauhid, yaitu seorang hamba meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam Rububiyah (ketuhanan), Uluhiyah (ibadah), Asma` (nama-nama) dan Sifat-Nya.

Tauhid merupakan kewajiban pertama yang Allah عزّوجلّwajibkan kepada umat manusia, dan sebaliknya larangan pertama yang Allah larang kepada mereka adalah syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah عزّوجلّ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/2: 21-22)

Tauhid adalah jaminan keselamatan sedangkan syirik adalah jaminan kebinasaan, di dalam eBook ini penulis memaparkan beberapa keutamaan Tauhid dan Bahaya Syirik; dan diakhir tulisan penulis -semoga Allah menjaganya- berkata:

Setelah kita mengetahui betapa pentingnya perkara tauhid dan begitu bahayanya perbuatan syirik, maka kami mengajak kepada para da’i/mubaligh agar mengutamakan dalam da’wahnya perkara tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya syirik. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلمdan para shahabat beliau, bahkan para rasul seluruhnya. Allah عزّوجلّberfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl/16: 36)

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Kamus Istilah Islam Edisi Kelima

Khazanah Istilah

eBook ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Pada edisi ini berhubungan erat dengan Ilmu Hadits, kami (Ibnu Majjah) mengutipnya dari terjemahan kitab Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah,  pada ‘Daftar Istilah Ilmiah’ oleh editor kitab tersebut, hal. 8-12, terbitan Pustaka Sahifa-Jakarta. Semoga bermanfaat.

No Kata Penjelasan
 1. Al-‘Adalah Potensi (baik) yang dapat membawa pemiliknya kepada takwa, dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan orang banyak. Predikat ini dapat diraih seseorang dengan syarat-syarat: Islam, baligh, berakal sehat, takwa, dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik.Dalam definisi lain, rawi yang adil ialah: yang meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil.
 2. Al-Jarh (at-Tajrih) Celaan yang dialamatkan pada rawi hadits yang dapat mengganggu (atau bahkan menghilangkan) bobot predikat “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus” dari dirinya.
 3. Al-Jarh wa at-Ta’dil Pernyataan adanya cela dan cacat, dan pernyataan adanya “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus” pada seorang rawi hadits.
 4. Al-Mutaba’ah Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.
 5. Ashhab as-Sunan Para ulama penyusun kitab-kitab “Sunan” yaitu: Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah.
 6. Ash-Shahihain Dua kitab shahih yaitu: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
 7. Asy-Syaikhain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
 8. At-Ta’dil Pernyataan adanya “al-‘Adalah” pada diri seorang rawi hadits.
 9. Hadits Ahad Hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir
 10. Hadits Dha’if Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits hasan, dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.
 11. Hadits Hasan Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki hafalan yang sedang-sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
 12. Hadits Masyhur Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih dalam setiap tabaqah, tetapi belum mencapai derajat mutawatir.
 13. Hadits Matruk Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh sebagai pendusta.
 14. Hadits Maudhu’ Hadits dusta, palsu dan dibuat-buat yang dinisbahkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
 15. Hadits Munkar Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang dha’if (lemah) dan bertentangan dengan riwayat rawi yang tsiqah (kredibel).
 16. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang rawi dalam setiap tabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.
 17. Hadits Shahih Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan yang hebat) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
 18. Ihalah Isyarat yang diberikan seorang muallif, berupa tempat yang perlu dirujuk berkaitan dengan hadits atau masalah bersangkutan.
 19. Illat Sebab yang samar yang terdapat di dalam hadits yang dapat merusak keshahihannya.
 20. Inqitha’ Terputusnya rangkaian sanad. Dalam sanadnya terdapat inqitha’, artinya: dalam sanad itu ada rangkaian yang terputus.
 21. Jahalah Tidak diketahui secara pasti, yang berkaitan dengan identitas dan jati diri seorang rawi.
 22. Layyin Lemah
 23. Lidzatihi Pada dirinya (karena faktor internal). Misalnya: Shahih Lidzatihi, ialah, hadits yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya, tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal.
 24. Lighairihi Karena didukung yang lain (karena faktor eksternal). Misalnya: Shahih Lighairihi ialah hadits yang hakikatnya adalah hasan, dan karena didukung oleh hadits hasan yang lain, maka dia menjadi shahih lighairihi.
 25. Majhul Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seorang saja.
 26. Majhul al-‘Adalah Tidak diketahui kredibelitasnya.
 27. Majhul al-‘Ain Tidak diketahui identitasnya.
 28. Majhul al-Hal Tidak diketahui jati dirinya.
 29. Maqthu’ Riwayat yang disandarkan kepada tabi’in atau setelahnya, berupa ucapan atau perbuatan, baik sanadnya bersambung atau tidak bersambung.
 30. Marfu’ Yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم baik ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat; baik sanadnya bersambung atau terputus.
 31. Mauquf (Riwayat) yang disandarkan kepada sahabat, baik perbuatan, ucapan atau taqrir. Atau riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada sahabat, dan tidak sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, baik sanadnya bersambung ataupun terputus.
 32. Mu’allaq (Hadits) yang sanadnya terbuang dari awal, satu orang rawi atau lebih secara berturut-turut, bahkan sekalipun terbuang semuanya.
 33. Mubham Rawi yang tidak diketahui nama (identitas)nya.
 34. Mudallis Rawi yang melakukan tadlis.
 35. Mu’dhal Hadits yang di tengah sanadnya ada dua orang rawi atau lebih terbuang secara berturut-turut.
 36. Munqathi’ Hadits yang di tengah sanadnya ada rawi yang terbuang, satu orang atau lebih, secara tidak berurutan.
 37. Mursal (Hadits) yang sanadnya terbuang dari akhir sanadnya, sebelum tabi’in.Gambarannya, adalah apabila seorang tabi’in mengatakan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, …” atau “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melakukan ini dan itu …”.
 38. Nakarah Makna hadits yang bertentangan dengan makna riwayat yang lebih kuat. Bila dikatakan, “Dalam hadits tersebut terdapat nakarah” artinya, di dalamnya terdapat penggalan kalimat atau kata yang maknanya bertentangan dengan riwayat yang shahih.
 39. Syadz Apa yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang pada hakikatnya kredibel, tetapi riwayatnya tersebut bertentangan dengan riwayat rawi yang lebih utama dan lebih kredibel dari dirinya.
 40. Syahid Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.
 41. Tadh’if Pernyataan bahwa hadits atau rawi bersangkutan dha’if (lemah).
 42. Tadlis Menyembunyikan cela (cacat) yang terdapat di dalam sanad hadits, dan membaguskannya secara zhahir.
 43. Tahqiq Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.
 44. Tahsin Pernyataan bahwa hadits bersangkutan adalah hasan.
 45. Takhrij Mengeluarkan suatu hadits dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dhaif.
 46. Ta’liq Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, atau derajat hadits dan sebagainya yang biasanya berbentuk cacatan kaki.
 47. Targhib Anjuran, atau dorongan, atau balasan baik.
 48. Tarhib Ancaman, atau balasan buruk.
 49. Tashhih Pernyataan shahih.
 50. Tsiqah Kredibel, di mana pada dirinya terkumpul sifat al-‘Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).

Download:
 Download PDF mirrorDownload PDFatau Download Word

Hibah Dalam Perspektif Fikih

Nama eBook: Hibah Dalam Perspektif Fikih
Disusun oleh: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc حفظه الله

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينامحمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Sebagai makhluk sosial, seorang muslim merupakan bagian masyarakat dari komunitas terkecil hingga terbesar, dalam interaksi sesama manusia kita saling memberi dan diberi, diantara hal yang terkenal ialah hibah dan hadiah.

Hibah, hadiah, dan wasiat adalah istilah-istilah syariat yang sudah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia, sehingga istilah-istilah ini bukan lagi suatu yang asing. Hibah, hadiah dan wasiat merupakan bagian dari tolong menolong dalam kebaikan yang diperintahkan agama Islam. Dalam hukum Islam, seseorang diperbolehkan untuk memberikan atau menghadiahkan sebagian harta kekayaan ketika masih hidup kepada orang lain. Pemberian semasa hidup itu sering disebut sebagai hibah.

Allah عزّوجلّ mensyariatkan hibah karena mendekatkan hati dan menguatkan tali cinta antara manusia, sebagaimana disabdakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

أَتَـهَادُوْا تَـحَابُّوْا

Saling memberilah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR. Al-Bukhari dalam al-Addbul Mufrad no. 594, shahih)

Demikianlah Islam yang diturunkan oleh Yang Mahasempurna, mengatur segala lini termasuk didalamnya hibah dan hadiah, temukan bahasannya dalam eBook berikut…

Download:
Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDFatau Download Word

Tetangga: Makna dan Batasannya

Nama eBook: Tetangga: Makna dan Batasannya
Penulis: Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Halabi حفظه الله

Pengantar:

Kita bersyukur kepada Allâh Ta’âla atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita, nikmat yang sangat banyak dan tidak dapat kita hitung, shalawat dan salam teruntuk nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya amma ba’du:

Allah Ta’ala telah memerintahkan kita berbuat baik kepada tetangga sebagimana firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (QS. An-Nisaa’/4: 36)

Tentang Hak-Hak Tetangga dan Keutamanya telah kita ketengahkan ebook-nya pada link ini, adapun pada eBook akan dijelaskan penyebutan tetangga dalam al-Qur’an, makna tetangga dan batasannya, semoga kiranya menambah manfaat….

Download:
 Download PDF atau Download Word

Pengertian Do’a, Dzikir dan Macam-Macamnya

Nama eBook: Pengertian dan Macam-Macam Do’a
Penulis: Syaikh Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Sebagai seorang muslim kita menyatakan ‘hanya kepada Allah kita Beribadah dan Hanya kepada-Nya kita Meminta’, sebab hal tersebut kita selalu mengingat-Nya dan berdo’a kepada-Nya.

Do’a berarti permohonan hamba kepada Rabbnya dengan cara memohon dan meminta, bisa pula berarti mensucikan, memuji dan makna yang sejenis dengan keduanya; dan do’a adalah bagian dari dzikir.

Pengertian dzikir adalah melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa kepada Allah. Yang dimaksud dengan lalai ialah meninggalkan sesuatu dengan usaha manusia itu sendiri. Dan yang dimaksud dengan lupa ialah meninggalkan sesuatu tanpa usaha dari manusia tersebut.

Hal tersebut diatas diantara hal yang dibahas dalam eBook ini, disamping itu juga dijelaskan pembagian dzikir ditinjau dari berbagai sisi, tingkatannya dan macam-macam dzikir, semoga kita memahami dan dapat mengamalkannya, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Pengantar Ilmu Kaidah Fiqih

Nama eBook: Pengantar Tentang Kaidah Fiqih
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Alhamdulillah kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, kemudian shalawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir, Amma ba’du:

Kaidah secara bahasa ‘fondasi dan dasar’, sedangkan fiqih secara bahasa ‘pemahaman’. Adapun secara istilah Kaidah fiqih artinya dasar-dasar syar’i yang mencakup luas cabang-cabang permasalahan fiqih untuk diketahui hukumnya.

Setiap kaidah fiqih bersumber dari al-Qur’an, hadits, ijma’ atau qiyas atau maqashid syari’ah (tujuan pokok syari’at).

Bila ditinjau dari luas dan sempitnya pembahasan dan permasalahan, terbagi menjadi tiga macam:

  1. Kaidah-kaidah besar
  2. Kaidah-kaidah tidak besar
  3. Kaidah-kaidah dalam satu bab saja

Demikianlah diantara hal yang diulas oleh penulis dalam eBook ini disamping bahasan lainnya, diakhir tulisan penulis menyebutkan dan membahas tujuan mempelajari kaidah fiqih diantaranya:

  1. Sebuah kaidah fiqhiyyah bisa digunakan untuk mengetahui banyak permasalahan fiqhiyyah yang tercakup dalam pembahasannya.
  2. Penguasaan kaidah fiqhiyyah akan sangat membantu seseorang di dalam memberikan sebuah hukum yang kontemporer dan belum pernah terjadi sebelumnya dengan cara yang mudah.
  3. Mengetahui keindahan syari’at Islam dan intisari syari’at.
  4. Agar ilmu fiqihnya kuat dan kokoh.

Silahkan baca eBook ini dan semoga iman kita semakin kokoh melihat begitu indahnya Islam yang mana tidak satupun permasalah yang tidak ada penjelasannya dalam syari’at…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Mencintai Ahlul Bait

Nama eBook: Mencintai Ahlul Bait Nabi صلى الله عليه وسلم
Penulis: Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, MA حفظه الله

Alhamdulillah, kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang dikarunikan-Nya kepada kita. Sholawat dan salam bagi nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya, para sahabatnya, dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang kiamat.

Salah satu pokok aqidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai Ahlu Bait Nabi صلى الله عليه وسلمserta menjaga wasiat Beliau صلى الله عليه وسلم tentang Ahlu Baitnya. Karenanya, anak-anak sebagai generasi yang kelak akan menjadi dewasa harus memiliki pemahaman yang jelas dan benar tentang Ahlu Bait, serta harus mencintai dan menghormati mereka. Mereka tidak boleh tersesat sikap dan pemahamannya tentang Ahlu Bait ini.

Karena itu, wajib bagi setiap Muslim mendidik putra-putrinya secara sungguh-sungguh untuk mencintai Ahlu Bait Nabi صلى الله عليه وسلم, karena ini merupakan penghormatan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم di samping karena Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم pun telah memerintahkannya.

Dalam sebuah hadits yang panjang Rasulullah صلى الله عليه وسلم berwasiat tentang Kitabullah dan Ahlul Baitnya, dan dalam hadits tersebut dijelaskan pula ahlul bait Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mari kita simak eBook ini…

Download:
Download PDF atau Download Word