Kamus Istilah Islam Edisi Keenam

Khazanah Istilah
Syaikh Fahd bin Abdurrahman asy-Syuwayyib

eBook ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Pada edisi ini kami (Ibnu Majjah) mengutipnya dari terjemahan buku Sifat Wudlu’ Nabi Shallalahu ‘Alaihi Wassalam karya Fahd bin Abdurrahman asy-Syuwayyib dengan penerjemah Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Cet. IV 1423H/2002M, terbitan Penerbit Darul Qalam, Jakarta. Kami mengutip perkataan penulis dan catatan kaki penerjemah. Semoga bermanfaat.

No Kata Penjelasan atau persamaan
 1.

الوُضُوء

Wudlu’

  • Secara bahasa, bila dibaca dengan dlammah wudluu’u  (الوُضُوء) artinya adalah pekerjaan wudlu’, atau mengambil air wudlu. Bila dengan fath‐hah wadluu’u (الوَضُوء) artinya adalah air wudlu’, dan juga wudlu’ itu adalah mashdar dan terkadang yang dimaksudkan dari keduanya ialah air wudlu’. Dikatakan  “tawadla’tu lishaalati”  (تَوَضَّأْتُ لِلصَّلَاةِ)  artinya “aku berwudlu untuk shalat”.
  • Secara syari’at arti wudlu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota‐anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyariatkan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
  • Wudhu’ adalah salah satu syarat sah shalat.
 2.

الرِبَاط

Ribath

  • Ribath, asal maknanya ialah tetap di pos penjagaan untuk menghadapi musuh.
  • Yang dimaksud dengan amal‐amal yang disebutkan dalam hadits tentang keutamaan berwudhu’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah) seperti ribath (perjuangan yang sempurna), karena dia dapat mencegah dirinya dari mengikuti hawa nafsu. Ada yang berpendapat, maknanya ialah ganjaran seperti ganjaran orang yang berjuang di pos penjagaan. (lihat, Hasyiyah Shahih Muslim 1:151)..
 3.

Tauru

Tauru (التَّوْر) artinya bejana kecil yang dipakai untuk berwudlu’
 4. Mud Mud (مُدّ) adalah satu jenis takaran yang isinya kurang lebih 6 ons atau sepenuh cidukan dua tapak tangan yang sedang.
 5. Sha’

1 sha’ = 4 mud; 1 mud = ukuran 1 1/3 rithl. Dinamakan demikian karena air yang diambil sepenuh kedua telapak tangan manusia.

 6. Niat
  • Niat artinya menyengaja dan kesungguhan hati untuk mengerjakan ibadah karena melaksanakan perintah Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan perintah Rasul‐Nya.
  • Niat adalah salah 1 (satu) dari 2 (dua) syarat sebuah ibadah diterima, adapun syarat yang kedua adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
 7. Madlmadlah Madlmadlah (مَضْمُضَة) artinya adalah berkumur‐kumur.
 8. Istinsyaq Istinsyaq (إِسْتَنْشَقَ) memasukkan air ke dalam hidung lalu menghirupnya dengan sekali nafas sampai ke dalam hidung yang paling ujung
 9 Istintsaar
  • Sedangkan Istintsaar (إِسْتَنْثَرَ) artinya mengeluarkan (menyemburkan air dari hidung sesudah menghirupnya.
  • Dalam berwudhu’ sunnahnya berkumur-kumur dan istinsyaq diambil dengan satu cidukan dan dilakukan tiga kali.
  • Istinsyaq dilakukan dengan tangan kanan dan Istintsaar dilakukan dengan tangan kiri.
 10. Siwak
  • Siwak dapat diartikan kayu yang biasa dipakai untuk membersihkan mulut (gigi). Siwak seperti miswak dan jamaknya adalah (سُوكٌ). Siwak itu asalnya dari pohon Arak, yaitu pohon yang terkenal (di daerah Hijaz) yang dahannya biasa dipakai untuk bersiwak.
  • Kata Imam Shan’ani: “Pengertian siwak menurut istilah, yaitu sejenis kayu (arak/sugi), maka yang mereka maksudkan ialah setiap alat yang dapat menghilangkan perubahan bau mulut seperti penyeka kotoran yang kesat dan jari yang kotor, dan yang terbaik adalah kayu Arak” (Subulus Salam, 1:88, Ta’liq Hamad Fawwaz Zamrali).
 11. Siku

Ta’rif (definisi) siku ialah tempat persambungan antara tulang hasta (lengan bawah) dengan lengan atas (Lihat Al-Qaamusul Muhith).

12. Muwaalaat

Muwaalaat artinya berturut‐turut membasuh anggota demi anggota wudhu’. Berturut‐turut maksudnya agar jangan sampai orang yang berwudlu itu menyela wudlu’nya dengan pekerjaan lain yang menurut kebiasaan dianggap telah menyimpang daripadanya.

Download:
 Download PDF atau Download WordmirrorDownload PDF

Kamus Istilah Islam Edisi Kelima

Khazanah Istilah

eBook ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Pada edisi ini berhubungan erat dengan Ilmu Hadits, kami (Ibnu Majjah) mengutipnya dari terjemahan kitab Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah,  pada ‘Daftar Istilah Ilmiah’ oleh editor kitab tersebut, hal. 8-12, terbitan Pustaka Sahifa-Jakarta. Semoga bermanfaat.

No Kata Penjelasan
 1. Al-‘Adalah Potensi (baik) yang dapat membawa pemiliknya kepada takwa, dan (menyebabkannya mampu) menghindari hal-hal tercela dan segala hal yang dapat merusak nama baik dalam pandangan orang banyak. Predikat ini dapat diraih seseorang dengan syarat-syarat: Islam, baligh, berakal sehat, takwa, dan meninggalkan hal-hal yang merusak nama baik.Dalam definisi lain, rawi yang adil ialah: yang meninggalkan dosa-dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil.
 2. Al-Jarh (at-Tajrih) Celaan yang dialamatkan pada rawi hadits yang dapat mengganggu (atau bahkan menghilangkan) bobot predikat “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus” dari dirinya.
 3. Al-Jarh wa at-Ta’dil Pernyataan adanya cela dan cacat, dan pernyataan adanya “al-‘adalah” dan “hafalan yang bagus” pada seorang rawi hadits.
 4. Al-Mutaba’ah Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits gharib, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari seorang sahabat yang sama.
 5. Ashhab as-Sunan Para ulama penyusun kitab-kitab “Sunan” yaitu: Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah.
 6. Ash-Shahihain Dua kitab shahih yaitu: Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
 7. Asy-Syaikhain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
 8. At-Ta’dil Pernyataan adanya “al-‘Adalah” pada diri seorang rawi hadits.
 9. Hadits Ahad Hadits yang sanadnya tidak mencapai derajat mutawatir
 10. Hadits Dha’if Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits hasan, dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.
 11. Hadits Hasan Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki hafalan yang sedang-sedang saja (khafif adh-Dhabt) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
 12. Hadits Masyhur Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih dalam setiap tabaqah, tetapi belum mencapai derajat mutawatir.
 13. Hadits Matruk Hadits yang di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh sebagai pendusta.
 14. Hadits Maudhu’ Hadits dusta, palsu dan dibuat-buat yang dinisbahkan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
 15. Hadits Munkar Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang dha’if (lemah) dan bertentangan dengan riwayat rawi yang tsiqah (kredibel).
 16. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang rawi dalam setiap tabaqah, sehingga mustahil mereka semua sepakat untuk berdusta.
 17. Hadits Shahih Hadits yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan memiliki tamam adh-Dhabt (hafalan yang hebat) dari rawi yang semisalnya sampai akhir sanadnya, serta tidak syadz dan tidak pula memiliki illat.
 18. Ihalah Isyarat yang diberikan seorang muallif, berupa tempat yang perlu dirujuk berkaitan dengan hadits atau masalah bersangkutan.
 19. Illat Sebab yang samar yang terdapat di dalam hadits yang dapat merusak keshahihannya.
 20. Inqitha’ Terputusnya rangkaian sanad. Dalam sanadnya terdapat inqitha’, artinya: dalam sanad itu ada rangkaian yang terputus.
 21. Jahalah Tidak diketahui secara pasti, yang berkaitan dengan identitas dan jati diri seorang rawi.
 22. Layyin Lemah
 23. Lidzatihi Pada dirinya (karena faktor internal). Misalnya: Shahih Lidzatihi, ialah, hadits yang shahih berdasarkan persyaratan shahih yang ada di dalamnya, tanpa membutuhkan penguat atau faktor eksternal.
 24. Lighairihi Karena didukung yang lain (karena faktor eksternal). Misalnya: Shahih Lighairihi ialah hadits yang hakikatnya adalah hasan, dan karena didukung oleh hadits hasan yang lain, maka dia menjadi shahih lighairihi.
 25. Majhul Rawi yang tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh seorang saja.
 26. Majhul al-‘Adalah Tidak diketahui kredibelitasnya.
 27. Majhul al-‘Ain Tidak diketahui identitasnya.
 28. Majhul al-Hal Tidak diketahui jati dirinya.
 29. Maqthu’ Riwayat yang disandarkan kepada tabi’in atau setelahnya, berupa ucapan atau perbuatan, baik sanadnya bersambung atau tidak bersambung.
 30. Marfu’ Yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم baik ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat; baik sanadnya bersambung atau terputus.
 31. Mauquf (Riwayat) yang disandarkan kepada sahabat, baik perbuatan, ucapan atau taqrir. Atau riwayat yang sanadnya hanya sampai kepada sahabat, dan tidak sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, baik sanadnya bersambung ataupun terputus.
 32. Mu’allaq (Hadits) yang sanadnya terbuang dari awal, satu orang rawi atau lebih secara berturut-turut, bahkan sekalipun terbuang semuanya.
 33. Mubham Rawi yang tidak diketahui nama (identitas)nya.
 34. Mudallis Rawi yang melakukan tadlis.
 35. Mu’dhal Hadits yang di tengah sanadnya ada dua orang rawi atau lebih terbuang secara berturut-turut.
 36. Munqathi’ Hadits yang di tengah sanadnya ada rawi yang terbuang, satu orang atau lebih, secara tidak berurutan.
 37. Mursal (Hadits) yang sanadnya terbuang dari akhir sanadnya, sebelum tabi’in.Gambarannya, adalah apabila seorang tabi’in mengatakan, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, …” atau “Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم melakukan ini dan itu …”.
 38. Nakarah Makna hadits yang bertentangan dengan makna riwayat yang lebih kuat. Bila dikatakan, “Dalam hadits tersebut terdapat nakarah” artinya, di dalamnya terdapat penggalan kalimat atau kata yang maknanya bertentangan dengan riwayat yang shahih.
 39. Syadz Apa yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang pada hakikatnya kredibel, tetapi riwayatnya tersebut bertentangan dengan riwayat rawi yang lebih utama dan lebih kredibel dari dirinya.
 40. Syahid Hadits yang para rawinya ikut serta meriwayatkannya bersama para rawi suatu hadits, dari segi lafazh dan makna, atau makna saja; dari sahabat yang berbeda.
 41. Tadh’if Pernyataan bahwa hadits atau rawi bersangkutan dha’if (lemah).
 42. Tadlis Menyembunyikan cela (cacat) yang terdapat di dalam sanad hadits, dan membaguskannya secara zhahir.
 43. Tahqiq Penelitian ilmiah secara seksama tentang suatu hadits, sehingga mencapai kebenaran yang paling tepat.
 44. Tahsin Pernyataan bahwa hadits bersangkutan adalah hasan.
 45. Takhrij Mengeluarkan suatu hadits dari sumber-sumbernya, berikut memberikan hukum atasnya; shahih atau dhaif.
 46. Ta’liq Komentar, atau penjelasan terhadap suatu potongan kalimat, atau derajat hadits dan sebagainya yang biasanya berbentuk cacatan kaki.
 47. Targhib Anjuran, atau dorongan, atau balasan baik.
 48. Tarhib Ancaman, atau balasan buruk.
 49. Tashhih Pernyataan shahih.
 50. Tsiqah Kredibel, di mana pada dirinya terkumpul sifat al-‘Adalah dan adh-Dhabt (hafalan yang bagus).

Download:
 Download PDF mirrorDownload PDFatau Download Word

Kamus Istilah Islam Edisi Keempat

Khazanah Istilah
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

eBook ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Pada edisi ini kami (Ibnu Majjah) mengutipnya dari terjemahan kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz[1] karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi tepatnya pada Kitab Thaharah. Semoga bermanfaat.

No Kata Penjelasan atau persamaan
 1. Thaharah
  • Secara bahasa berarti suci dan bersih dari hadats.
  • Sedangkan menurut istilah bermakna menghilangkan hadats dan najis.
 2. Najis
  • An-Najaasaat adalah bentuk plural dari najasah [najis].
  • Yaitu semua yang dianggap menjijikkan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya, seperti kotoran dan air seni.
 3.  اْلأَذَى

(al-Adzaa)

  • Adalah segala sesuatu yang engkau merasa tersakiti olehnya, seperti najis, kotoran, batu, duri, dan sebagainya.
  • Hadits yang berbunyi “Jika salah seorang di antara kalian menginjak al-adzaa dengan sandalnya, maka tanah adalah penyucinya.”, yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah najis, sebagaimana yang tampak jelas.
 4. Madzi
  • Yaitu cairan putih (bening), encer, dan lengket yang keluar ketika naiknya syahwat. Dia tidak keluar dengan syahwat, tidak menyembur, dan tidak pula diikuti lemas. Terkadang keluar tanpa terasa. Dialami pria maupun wanita.
  • Madzi adalah najis, maka disucikan dengan mencuci kemaluan dan berwudhu’.
 5. Wadi
  • Sedangkan Wadi adalah cairan putih (bening) dan kental yang keluar setelah kencing.
  • Wadi juga najis, karena wadi maka diperintahkan mencuci kemaluan dan berwudhu’.
 6. اْلإِهَابُ
(al-Ihaab)
  • Al-Ihaab adalah kulit hewan yang telah mati (bangkai).
  • Mensucikan al-Ihaab adalah dengan mensamaknya.
 7. الْخَلاَءَ
(al-Khalaa’)
= kamar kecil/WC.
 8. Qubul dan Dubur = kemaluan dan anus.
 9 الْغَائِطِ
(al-Ghaa-ith)
  • yaitu kiasan dari buang hajat.
  • Terdapat dalam ayat ke-6 surat al-Maaidah “أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ”.
 10.  Khuff
  • = Sepatu yang menutup mata kaki.
  • Ulama Ahlussunnah sepakat akan disyariatkannya mengusap khuff baik safar maupun tidak.
  • Syiah dan Khawarij mengingkari syariat mengusap khuff.
 11. اَلصَّعِيْدُ
(ash-Sha’iid)
  • Dalam Lisaanul ‘Arab disebutkan: Ash-Sha’iid artinya tanah.  Ada yang menyatakan:  tanah yang suci. Ada pula yang mengatakan:  semua debu yang suci.
  • Abu Ishaq berkata, “Ash-Sha’iid adalah permukaan bumi…”
12.  Haid
  • Adalah darah yang dikenal para wanita. Tidak ada batasan tentang waktu maksimal dan minimalnya dalam syari’at. Itu semua berpulang pada kebiasaan masing-masing.
 13. Nifas
  • Sedangkan nifas adalah darah yang keluar karena melahirkan. Batasan maksimal adalah empat puluh hari.
 14. Istihadhah
  • Yaitu darah yang keluar pada selain waktu haidh dan nifas, atau yang bersambung dengan keduanya (tetapi bukan termasuk keduanya, ed)

[1]     Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 H – September 2007 M; kami (www.ibnumajjah.wordpress.com) mengutipnya dari www.almanhaj.or.id.

Download:
 Download PDF atau Download Word

Kamus Istilah Islam Edisi Kedua

Khazanah Istilah

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi حفظه الله

Rubrik ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Kehadiran rubrik ini diharapkan menambah khazanah pengetahuan kita tentang beberapa istilah yang sering muncul, termasuk di Majalah ini.[1]Semoga bermanfaat

9.

Kaidah Fiqih
  • Kaidah” secara bahasa berarti fondasi dan dasar, sedangkan “fiqih” secara bahasa berarti pemahaman. Adapun secara istilah artinya dasar-dasar syar’i yang mencakup luas cabang-cabang permasalahan fiqih untuk diketahui hukumnya…
  • Dan mempelajari kaidah-kaidah fiqih sangat penting sebab permasalahan dalam fiqih banyak sekali dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Al-Qarrafi mengatakan dalam adz-Dzakhirah l/55, “Setiap fiqih yang tidak dibangun di atas kaidah-kaidah maka itu bukanlah fiqih yang sejati.” (Baca: al-Mufashshal fil Qawa’id Fiqhiyyah hlm. 36 karya Dr. Ya’qub bin Abdul Wahhab Alba Husain dan al-Qawaid al-Kulliyyah hlm. 18 oleh Dr. Muhammad Utsman Syubair).

10.

Fiqih
  • Fiqih” secara bahasa adalah pemahaman, dan secara istilah adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan amal (bukan aqidah) yang diambil dari dalil-dalilnya secara terperinci.
  • Sumber fiqih diambil dari al-Qur’an, hadits shahih, ijma’, dan qiyas yang shahih. (Baca al-Fiqhul Muyassar hlm. 15 oleh sejumlah ulama.) Ilmu fiqih ini penting sekali karena berkaitan dengan kewajiban kita dalam ibadah dan mu’amalah. Ibnul Jauzi رحمه الله mengatakan dalam Shaidul Khathir hlm. 289, “Bukti paling utama tentang keutamaan sesuatu adalah melihat kepada buahnya. Barangsiapa yang mencermati buah fiqih niscaya akan mengetahui bahwa fiqih adalah ilmu yang paling utama.”.

11.

Iqtishod Islami
  • Iqtishod” secara bahasa adalah ekonomi, sedang ekonomi adalah kajian tentang pencarian harta dan pengelolaannya. Dan yang dimaksud di sini lebih khusus adalah kajian tentang seluk-beluk jual beli yang merupakan pokok dasar perekonomian. Disandarkan pada kata “Islami” untuk membedakan antara ekonomi dalam aturan Islam dengan ekonomi aturan Barat yang banyak merugikan dan menyengsarakan.

[1] Majalah Al-Furqon No. 139 Ed. 03 Th Ke-13_1434 H/ 2013 M, edisi ketiga dari kamus istilah ini telah terbit sebelumnya, silahkan klik disini.

Download:
Download PDF atau Download Word

Kamus Istilah Islam Edisi Ketiga

Khazanah Istilah

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi حفظه الله

Rubrik ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Kehadiran rubrik ini diharapkan me-nambah khazanah pengetahuan kita tentang beberapa istilah yang sering muncul, termasuk di Majalah ini.[1]Semoga bermanfaat

12.

Kisah Sahabat dan Tabi’in
  • Sahabat” adalah seorang yang berjumpa dengan Nabi صلى الله عليه وسلم dan beriman kepada beliau serta meninggal dunia dalam keimanan. “Tabi’in”  adalah  seorang  yang  bertemu  dengan  sahabat  Nabi صلى الله عليه وسلم dan beriman kepada Nabi صلى الله عليه وسلم serta meninggal dalam keimanan. (Baca Nuzhatun Nazhar fi Taudhihi Nukhbatil Fikar hlm. 149-152 karya Ibnu Hajar al-Asqalani.).
  • Mempelajari kisah-kisah mereka sangatlah bermanfaat untuk menambah keimanan dan meniru kegigihan mereka dalam beramal.
  • Ibnul Jauzi رحمه الله pernah mengatakan, “Saya menilai bahwa sibuk dengan fiqih dan hadits tidaklah cukup untuk kebaikan hati, kecuali bila dicampur dengan mempelajari siroh salaf shalih.” (Shaidhul Khathir hlm. 292).

13.

Khutbah Jum’at
  • Khutbah” diambil dari kata “khathb” yaitu kesulitan atau urusan be-sar. Hal itu karena orang-orang Arab dahulu, apabila tertimpa masalah besar maka mereka berpidato lalu orang-orang berdatangan untuk berkumpul danberpikir bersama untuk mencari solusinya. (Kitab at-Ta’yinfi Syarhil Arba’in ath-Thufi hlm. 3).
  • Dan khutbah Jum’at yaitu pidato di hari Jum’at sebelum melakukan shalat Jum’at tentang hal-hal penting yang dibutuhkan manusia.
  • Khutbah Jum’at memiliki beberapa aturan dan hukum serta adab yang hendaknya diketahui oleh seorang muslim. (Lihat dalam asy-Syamil fi Fiqhil Khathib wal Khuthbah oleh Dr. Su’ud asy-Syuraim.)

14.

Fiqih Nawazil
  • Fiqih Nawazil” tersusun dari dua kata, yaitu “fiqih” dan “nawazil”. “Fiqih” secara bahasa adalah pemahaman, sedangkan “nawazil” adalah bentuk jamak dari “nazilah” yang artinya masalah rumit/kesusahan.
  • Adapun makna Fiqih Nawazil adalah pengetahuan hukum-hukum syari’at tentang masalah-masalah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. (al-Mantsur fil Qawa’id karya az-Zarkasyi 1/69).
  • Mempelajari masalah-masalah modern/ kontemporer ini penting untuk mem-buktikan bahwa Islam relevan untuk setiap zaman dan tempat, apalagi pada zaman sekarang yang begitu banyak permasalahan modem terutama dalam masalah ekonomi, kedokteran, makanan, dan lain-lain.

15.

Fiqih Dakwah
  • Dakwah” secara bahasa berarti mengajak, dan secara istilah adalah mengajak dan menyampaikan seluk-beluk agama Islam kepada manusia serta menyeru mereka untuk mengamalkannya.
  •  Adapun “Fiqih Dakwah” maksudnya ialah ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan tujuan dan metode menyampaikan Islam kepada manusia. (Baca Qawa’id wa Dhawabith Fiqhi Dakwah hlm. 98 karya Abid bin Abdullah ats-Tsubaiti.)

16.

Tazkiyah Nufus
  • Tazkiyah Nufus” diambil dari dua kata: “tazkiyah” dan “nufus”.
  • “Tazkiyah” secara bahasa menyucikan dan berkembang, sedangkan “nufus” bentuk jamak dari “nafs” yang artinya hati. Jadi, makna “tazkiyah nufus” adalah menyucikan hati/jiwa dari noda-noda dan dosa, dan mengembangkannya berupa ketaatan dan keimanan.
  • Ilmu ini sangat penting karena mengandung intisari dakwah para rasul dan merupakan kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  • Dan perlu diketahui bahwa metode tazkiyah nufus yang benar adalah apa yang sesuai dengan ajaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم bukan dengan metode-metode bid’ah yang semarak pada zaman sekarang. (Baca Tazkiyah Nufus Mafhumuha wa Maratibuha wa Asbabuha hlm. 9-10 oleh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili.).

17.

Siroh
  • “Siroh”  secara  bahasa  berarti  perjalanan  seorang manusia.  Adapun secara istilah, ia adalah ilmu  tentang perjalanan kehidupan Nabi صلى الله عليه وسلم secara detail sejak lahir hingga wafatnya serta hal-hal yang berkaitan dengannya.
  • Ilmu ini sangat penting agar kita bisa meneladani kehidupan Nabi صلى الله عليه وسلم, mengambil pelajaran darinya, dan menjadi kiat agar semakin cinta kepada beliau..
  • Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam siroh hendaknya yang dijadikan sumbernya adalah al-Qur’an, hadits shahih, dan sejarah yang autentik. (Baca Muqaddimah Syaikh Basim al-Jawabirah dan Samir az-Zuhairi terhadap al-Fushul fi Sirah Rasul karya Ibnu Katsir hlm. 4-7).

 


[1] Majalah Al-Furqon No. 140 Ed. 4 Th Ke-13_1434 H/ 2013 M, Kami www.ibnumajjah.com terlewat Majalah Al-Furqon No. 139 Edisi 2&3, mudah-mudahan kami bisa mendapatkannya, amin… atau bagi rekan yang memilikinya mohon kirim kami scan rubrik ini, jazakallahu khair….

Download:
Download PDF atau Download Word

Kamus Istilah Islam Edisi Perdana

Khazanah Istilah

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi حفظه الله

Rubrik ini berisi penjelasan tentang istilah-istilah dari bahasa Arab yang sering dijumpai dalam literatur sya’ri. Kehadiran rubrik ini diharapkan menambah khazanah pengetahuan kita tentang beberapa istilah yang sering muncul, termasuk di Majalah ini. Dan sebagai awal kajian di edisi perdana tahun ini,[1] kami akan menjelaskan makna istilah-istilah rubrik dalam Majalah ini. Semoga bermanfaat.

No

Kata

Penjelasan

1.

Tafsir

  •  Tafsir secara bahasa artinya ‘penjelasan’.
  • Adapun secara istilah adalah penjelasan tentang makna-makna al-Qur’an yang mulia.
  • Dan mempelajari tafsir al-Qur’an adalah wajib karena Allah عزّوجلّ memerintah kita untuk merenungi al-Qur’an. (Lihat Ushulunfi Tafsir hlm. 28 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.)

2.

Al-Qur’an

  • Al-Qur’an secara bahasa adalah ‘membaca atau mengumpulkan’.
  • Adapun secara istilah adalah kalam (ucapan) Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم, dan membacanya dianggap sebagai suatu ibadah, dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
  • Al-Qur’an memiliki beberapa nama yang banyak sebagai bukti keistimewaan dan keagungannya. (Lihat Mabahitsfi Ulumil Qur’an hlm. 17 oleh Syaikh Manna’ al-Qathan.)

3.

Hadits

  • Hadits secara bahasa ‘baru’.
  • Adapun secara istilah adalah apa saja yang disandarkan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat.
  • Dan hadits itu ada yang shahih, hasan, dha’if (lemah), maudhu’ (palsu), bahkan ada yang tidak ada asalnya. la memiliki beberapa istilah yang cukup banyak. (Lihat Taisir Mushthalah Hadits hlm. 17 oleh Dr. Mahmud ath-Thahan.)

4.

Manhaj

  • Manhaj secara bahasa adalah ‘jalan yang jelas’.
  • Adapun secara istilah adalah jalan yang jelas, yang ditempuh oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabat serta generasi terbaik dalam beragama, baik aqidah, ibadah, akhlak, dan sebagainya. (Lihat Limadza Ikhtartu Manhaj Salafi hlm. 88 oleh Syaikh Salim al-Hilali.)

5.

Aqidah

  • Aqidah secara bahasa adalah ‘ikatan dan kokoh’.
  • Adapun secara istilah adalah apa yang diyakini secara kuat oleh manusia dalam hatinya tanpa ada keraguan padanya.
  • Aqidah memiliki beberapa istilah lainnya seperti tauhid, as-sunnah, ushuluddin, iman, syari’at, fiqih akbar, dan sebagainya.
  • Aqidah lebih umum daripada tauhid.
  • Aqidah Islam yang benar adalah yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih sesuai dengan pemahaman salaf shalih.
  • Ulama yang pertama kali membukukan aqidah dalam sebuah kitab adalah Abdullah bin Wahb al-Qurasyi (197 H) dalam kitabnya tentang masalah takdir. (Lihat al-Ususul al-Masyidah fi Tauhid wal Aqidah hlm. 7,75 oleh Syaikh Akram Ziyadah.)

6.

Tauhid

  • Tauhid secara bahasa ‘mengesakan’.
  • Adapun secara istilah, tauhid berarti mengesakan Allah عزّوجلّ dan tidak menyekutukan-Nya dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah عزّوجلّ. Tauhid terbagi menjadi tiga: rububiyyah, Uluhiyyah, dan asma wa shifat. (Lihat al-Qaulus Sadid fi Maqashid Tauhid hlm. 17 oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di.)

7.

Thoroif

  •  Thoroif secara bahasa adalah ‘lucu’.
  • Adapun secara istilah adalah kisah-kisah lucu yang membuat seorang tertawa dan bahagia.
  • Dan tentu saja kisah-kisah tersebut hendaknya shahih dan memuat hikmah. Dahulu, Ali bin Abi Thalib عزّوجلّ mengatakan, “Rilekskanlah hati kalian dengan thoroif (kisah-kisah lucu) yang penuh hikmah, karena hati kadang bosan sebagaimana badan juga bosan.” (Irsyadul Arib 1/94 oleh al-Hamawi)

8.

Ghoroib

  • Ghoroib secara bahasa adalah ‘aneh’.
  • Adapun secara istilah adalah kejadian-kejadian yang aneh binti ajaib yang jarang terjadi di alam kehidupan.
  • Dan setiap kali kita mendengar ghoroib maka anggaplah mungkin itu terjadi, selagi kita tidak memiliki bukti kuat untuk mengingkarinya. (Lihat Abjadul Ulum 1/247 oleh Shiddiq Hasan Khan.)

 


[1]     Yakni Majalah Al-Furqon Edisi 1 Tahun  ketigabelas 1434 H/ 2013 M, Kami www.ibnumajjah.com berkeinginan menggabungkan eBook ini dengan rubrik yang sama pada Majalah Al-Furqon yang akan datang, semoga Allah memudahkannya, amin…

Download:
Download PDF atau Download Word

Dasar Ilmu Hadits

Nama eBook: Dasar Ilmu Hadits
Penulis: Tim Lidwa Pusaka

Pengantar:

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم, keluarga, sahabatnya رضي الله عنهم dan yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Kesempatan kali ini kami ketengahkan kepada kita sekelumit tentang ilmu hadits terutama istilah-istilah yang berhubungan dengan ilmu yang mulia ini, kita mungkin telah  pernah mendengar istilah seperti: Ashhab Sunan, Muttafaqun ‘alihi, Jayyid, Majhul, Takhrij, Syawahid dan istilah lainnya; mungkin pula tidak semua kita memahami kata-kata atau istilah tersebut, semoga eBook ini menambah ilmu kita dan melapangkan jalan kita memahami dan mengamalkan sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم.

Download:
Dasar Ilmu Hadits atau ZIP file

Tulisan Terkait:
Kaidah Emas Mengenal Hadits Shahih dan Dhaif

Kaidah Memahami Hadits
Hadits Dhaif dalam Buah Karya Para Ulama
Silsilah Hadits Shahih
Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu’