Kaidah Halal-Haram Dalam Jual Beli

Nama eBook: Kaidah Halal-Haram Dalam Jual Beli
Penulis: Ustadz Mu’tashim

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Pada pembahasan masalah mu’amalah dan jual beli, hukum asalnya adalah boleh dan halal. Tidak ada larangan dan tidak berstatus haram, sampai didapatkan dalil dari syariat yang menetapkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. (QS. al-Baqarah/2:275)

Sepanjang ridha, kejujuran, keadilan melekat dalam suatu proses mu’amalah dan jual beli, tanpa ada unsur kebatilan dan kezhaliman, bentuk transaksi itu diperbolehkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”. (QS. an-Nisa’/4:29)

Syariat Islam dengan hikmah dan rahmatnya, mengharamkan apa yang membahayakan terhadap agama dan dunia. Kaidah penting yang kita angkat pada pembahasan kali ini berhubungan dengan riba, penipuan, dan perjudian, disertai dengan penjelasan kaidah-kaidah penting lainnya

Download:
Download CHM atau Download ZIP dan Download PDF atau Download Word

Iklan

Kaedah: Perantara Mempunyai Hukum Tujuannya

Nama eBook: Kaedah: Perantara Mempunyai Hukum Tujuannya
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada pertemuan yang mulia ini akan kita sampaikan sebuah kaedah yang masyhur yakni:

اَلْوَسَائِلُ لَـهَا أَحْكَامُ الْـمَقَاصِدِ

Perantara Mempunyai Hukum Tujuannya.

Terpecah dari kaedah ini beberapa kaedah lainnya yaitu:

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Sebuah perbuatan wajib yang tidak mungkin dikerjakan kecuali dengan mengerjakan sesuatu lainnya, maka sesuatu lainnya tersebut pun dihukumi wajib.

مَا لَا يَتِمُّ الْـحَرَامُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ حَرَامٌ

Baca pos ini lebih lanjut

Mengenal Perniagaan Haram

Nama eBook: Mengenal Perniagaan Haram
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Mengais rezeki untuk menyambung hidup, agar dapat berbakti dan mengabdi kepada Alloh Ta’ala, adalah sesuatu yang luhur. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda.

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنْ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Engkau pergi mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggungnya, dan dari hasil kerjamu ini engkau bersedekah dan mencukupi kebutuhanmu (sehingga tidak meminta kepada) orang lain. Itu lebih baik dari pada engkau meminta-minta kepada orang lain, baik akhirnya orang itu memberi atau menolak permintaanmu. Karena sesungguhnya tangan yang di atas itu lebih utama daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah (nafkahmu dari) orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu.” (Riwayat al-Bukhori hadits no. 1362 dan Muslim hadits no. 1033)

Namun, yang demikian itu bukan berarti kita bebas mengais rezeki dari jalan apa pun yang kita suka. Salah dalam menjatuhkan pilihan, niscaya kita sengsara dunia akhirat. Hidup di dunia tidak berkah dan akhirat menanggung siksa di neraka. Selektif dan senantiasa waspada adalah satu-satunya cara untuk bisa selamat dalam mengais rezeki. Hendaknya kita selalu merasa puas dengan rezeki yang halal dan menjauhi setiap yang haram atau syubhat, dalam eBook ini akan dijelaskan alasan-alasan suatu perniagaan diharamkan, semoga kita adapat mengamalkannya, amin….

Download:
Download CHM atau Download ZIP dan Download PDF atau Download Word

Rambu-Rambu Agama Dalam Olahraga

Nama eBook: Rambu-Rambu Agama Dalam Olahraga
Penulis: Ustadz Abu Ibrohim Muhammad Ali AM حفظه الله

Alhamdulillah, kita bersyukur dan memuji Allah azza wa jalla yang telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita. Sholawat dan salam bagi Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat dan yang mengikuti sunnah mereka hingga akhir zaman. Amma ba’du:

Penulis -semoga Allah menjaganya- berkata pada awal eBook:

Dunia olah raga adalah dunia yang penuh dengan sensani dan menjadi hobi kebanyakan anak manusia. Islam-pun tidak melarangnya karena memang hukum asal olahraga adalah halal/dibolehkan selama tidak disertai perkara-perkara yang terlarang. Hanya saja Islam telah meletakkan rambu-rambu dan kaidah-kaidah olahraga secara umum agar tidak keluar dari garis syari’at.

Oleh karenanya sangat penting untuk kita kaji masalah ini agar kita bisa mengetahui olahraga/ lomba-lomba apakah yang dibolehkan dalam islam dan dilarang oleh Islam. Diantara kaidah-kaidah tersebut adalah….

Kemudian penulis menyebutkan tiga belas kaidah/ rambu-rambu yang harus diperhatikan seorang muslim dalam olahraga; selain itu dalam versi CHM kami sertakan Fatwa Majelis Majma’ Fikih Islam tentang olahraga Tinju, Gulat Bebas, Adu Banteng dan Mengadu Binatang, selamat menikmati…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Pengakuan adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas

Nama eBook: Pengakuan adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

اَلْإِقْرَارُ حُجَّةٌ قَاصِرَةٌ

Pengakuan Adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas

اَلْإِقْرَارُ adalah pengakuan atas dirinya sendiri bahwa dia punya tanggungan pada orang lain, adapun kalau pengakuan itu untuk orang lain maka namanya: tuduhan.

حُجَّةٌ: dalil, maksudnyasebuah pengakuan bisa dijadikan sebagai sebuah hujjah.

Adapun arti قَاصِرَةٌ adalah: terbatas, dalam artian bahwa sebuah pengakuan itu hanya merupakan hujjah bagi yang mengaku saja dan tidak berlaku pada orang lain.

Dari sini maka makna kaedah adalah:

Sebuah pengakuan itu sebuah hujjah yang hanya berlaku bagi yang mengaku saja dan bukan untuk orang lain.

Adapun yang bisa berlaku untuk orang lain adalah bayyinah atau bukti.

Contoh penerapan kaedah: Kalau si A mengatakan: “Saya telah berzina”, maka pengakuannya ini diterima dan bisa ditegakan hujjah atas penegakan hukum rajam atau cambuk oleh sang hakim, namun kalau dia mengatakan si C telah berzina, maka dia butuh mendatangkan empat saksi, karena sekarang ucapannya itu menjadi sebuah tuduhan.

Contoh lain Kalau si A berkata: “si B pernah menghutangi saya jugapernah menghutangi si C, masing-masing satu juta rupiah”,maka ini hanya berlaku untuk dirinya sendiri dan bukanpada si C kecuali kalau bisa mendatangkan saksi.

Demikianlah sedikit gambaran dari kaedah fiqih ini, silahkan baca eBook-nya dan semoga kita semakin mencintai syariat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Yang Ikut Itu Hukumnya Sekedar Mengikuti

Nama eBook: Yang Ikut Itu Hukumnya Sekedar Mengikuti
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

التَابِعُ تَابِعٌ

Yang Ikut Itu Hukumnya Sekedar Mengikuti.

Makna dari kaedah ini adalah sesuatu yang keberadaannya mengikuti sesuatu yang lain, maka hukumnya pun tidak bisa berdiri sendiri akan tetapi harus mengikuti hukum pokok yang dikutinya.

Contoh dalam penerapan adalah haramnya menjual binatang yang masih dalam perut induknya, namun halal menjual binatang yang bunting, karena dalam bentuk yang kedua ini yang di jual adalah induknya, adapun janinnya hanya sekedar rnengikuti, namun dalam keadaan yang pertama yang dijual adalah janinnya secara langsung, maka itu haram karena adanya jahalah (ketidakjelasan barang yang dijual).

Demikianlah sedikit gambaran dari kaedah fiqih ini, silahkan baca eBook-nya dan didalamnya juga akan kita temui 6 kaidah yang merupakan cabang kaidah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Kaidah Fikih: Bukti, Saksi dan Sumpah

Nama eBook: Kaidah Fikih: Bukti, Saksi dan Sumpah
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

Alhamdulillah segala puji bagi Allah ta’ala Rabb semesta alam, shalawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang dijanjikan, Amma ba’du:

Pada kesempatan yang mulia ini kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

البَيِّنَةُ الْتمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Bagi Yang Menuntut Wajib Membawa Bukti,
Sedangkan Yang Mengingkari Cukup Bersumpah
.

Kaidah ini terambil dari nash Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas رضي الله عنهما:

عَنْ عَبْدِ بْنُ عَبَّاسٍ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ ، وَلَكِنْ الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي ، وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Seandainya orang-orang itu diberi atas pengakuan mereka, niscaya akan ada orang-orang yang mengaku harta dan darah orang lain. Namun bagi yang mengaku (menuntut) wajib membawa bukti sedangkan yang mengingkari cukup bersumpah.” (HR. Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 10/252 no. 20990 dengan sanad hasan)

Hadits ini adalah sebuah kaidah yang  sangat besar dalam syari’at Islam, karena merupakan pokok dasar semua permasalahan dalam menetapkan benar dan tidaknya sebuah persoalan hukum oleh seorang hakim. (Lihat Syarah Muslim oleh Imam Nawawi, 12/3).

Simak lebih lanjut pembahasan kaidah ini yang didalam eBook akan dijelaskan asal kaidah, makna kaidah, kedudukan kaidah, contoh penerapan kaidah dan hubungannya dengan sumpah palsu, semoga bermanfaat…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Perubahan Kepemilikan Seperti Perubahan Benda

Nama eBook: Perubahan Kepemilikan Seperti Perubahan Benda
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Kembali pada postingan kali ini kita sampaikan sebuah kaedah fikih yakni:

تَبَدُّلُ سَبَبِ الْـمِلْكِ كَتَبَدُّلِ الْعَيْنِ

Perubahan sebab kepemilikan seperti perubahan sebuah benda.

Secara umum makna kaedah ini, bahwa kalau berubah sebab kepemilikan seseorang terhadap sebuah benda maka secara hukum syar’i berubah pulalah benda tersebut, meskipun secara hakekatnya benda tersebut tidak mengalami perubahan sama sekali.

Sebab kepemilikan adalah sebuah sebab yang menjadikan seseorang memiliki suatu barang, misalnya jualbeli, menerima shodaqoh, zakat, diberi hibah atau sebab lainnya.

Untuk memahaminya kita utarakan sebuah contoh: Orang kaya dan ahlul bait Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak halal menerima sedekah, namun bila seorang fakir menerima harta sedekah atau zakat kemudian ia hadiahkan kepada orang kaya dan ahlu bait maka menjadi halal bagi mereka, sebab harta itu sampai kepada mereka adalah sebagai hadiah.

Temukan dalil dan penjelasan lebih lanjut dari kaedah tersebut dalam eBook ini dan semoga kita diberikan-Nya pemahaman, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Pengantar Ilmu Kaidah Fiqih

Nama eBook: Pengantar Tentang Kaidah Fiqih
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Alhamdulillah kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, kemudian shalawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari akhir, Amma ba’du:

Kaidah secara bahasa ‘fondasi dan dasar’, sedangkan fiqih secara bahasa ‘pemahaman’. Adapun secara istilah Kaidah fiqih artinya dasar-dasar syar’i yang mencakup luas cabang-cabang permasalahan fiqih untuk diketahui hukumnya.

Setiap kaidah fiqih bersumber dari al-Qur’an, hadits, ijma’ atau qiyas atau maqashid syari’ah (tujuan pokok syari’at).

Bila ditinjau dari luas dan sempitnya pembahasan dan permasalahan, terbagi menjadi tiga macam:

  1. Kaidah-kaidah besar
  2. Kaidah-kaidah tidak besar
  3. Kaidah-kaidah dalam satu bab saja

Demikianlah diantara hal yang diulas oleh penulis dalam eBook ini disamping bahasan lainnya, diakhir tulisan penulis menyebutkan dan membahas tujuan mempelajari kaidah fiqih diantaranya:

  1. Sebuah kaidah fiqhiyyah bisa digunakan untuk mengetahui banyak permasalahan fiqhiyyah yang tercakup dalam pembahasannya.
  2. Penguasaan kaidah fiqhiyyah akan sangat membantu seseorang di dalam memberikan sebuah hukum yang kontemporer dan belum pernah terjadi sebelumnya dengan cara yang mudah.
  3. Mengetahui keindahan syari’at Islam dan intisari syari’at.
  4. Agar ilmu fiqihnya kuat dan kokoh.

Silahkan baca eBook ini dan semoga iman kita semakin kokoh melihat begitu indahnya Islam yang mana tidak satupun permasalah yang tidak ada penjelasannya dalam syari’at…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

6 Pedoman Beribadah Kepada Allah

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Seorang hamba wajib menghambakan  dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam  proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabb-nya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang.

Ada enam pedoman dalam beribadah yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

Pertama: Ibadah itu bersifat تَوْقِيْفِيَّة (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya).
Kedua: Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, bersih dari noda-noda kesyirikan.
Ketiga: Hendaknya teladan dalam ibadah dan insan yang menjelaskannya adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Empat: Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.
Kelima: Ibadah harus dibangun di atas mahabbah kepada Allah Azza wa Jalla, dzull (kehinaan), al-khauf (rasa takut), ar-raja (pengharapan) kepada-Nya.
Keenam: Ibadah tidak akan pernah gugur dari seorang mukallaf sejak ia baligh hingga ajal datang menghentikan kehidupan dunianya.

Download:

Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word