Suatu Perkara Dikaitkan Dengan Sebab yang Zhahir

Alhamdulillah, kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita, nikmat yang sangat banyak yang tiada dapat kita menghitungnya, kemudian shalawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, Amma ba’du:

Kaedah Fikih yang kita posting pada kesempatan ini adalah:

الْـحُكْمُ الْـحَادِثُ يُضَافُ إِلَى السَّبَبِ الْـمَعْلُوْمِ لَا إِلَى الْـمُقَدَّرِ الْـمَظْنُوْنِ

Hukum suatu perkara dikaitkan dengan sebab yang sudah diketahui bukan dengan sebab yang masih diperkirakan

Kaidah di atas menjelaskan solusi apabila terjadi perbedaan pendapat dalam menetapkan sebab dari suatu perkara, yang bisa dijadikan sandaran hukum. Faktor penyebab suatu kejadian bisa digolongkan menjadi dua. Pertama, sebab yang zhahir (nyata terlihat) dan diketahui umum. Kedua, sebab yang masih dalam bentuk dugaan atau perkiraan. Jika seperti ini keadaannya, maka hukum perkara itu, kita sandarkan kepada sebab yang zhahir, bukan kepada sebab yang masih dalam bentuk perkiraan. Karena, sebab yang zhahir (nyata terlihat) dan diketahui umum adalah sebab yang matayaqqan ats-tsubut (pasti keberadaannya), sedangkan sebab yang masih diperkirakan itu adalah masykukun fi tsubutihi (diragukan keberadaannya). Sedangkan kaidah umum mengatakan bahwa al-yaqin layazulu bi asy-syak (Sesuatu yang sudah diyakini tidak bisa hilang hanya karena sesuatu yang masih diragukan).

Dalil kaidah ini adalah dalil yang mendasari kaidah Keadilan al-yaqin layazulu bi asy-syak dan dalil yang khusus berkaitan dengan kaidah ini di antaranya adalah hadits Adi bin Hatim radhyallahu ‘anhu dalam riwayat al-Bukhari rahimahullah dan Muslim rahimahullah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِنْ رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَوَجَدْتَهُ بَعْدَ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لَيْسَ بِهِ إِلَّا أَثَرُ سَهْمِكَ فَكُلْ

Baca pos ini lebih lanjut

Tayammum = Wudhu dan Mandi

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, kemudian shalawat dan salam untuk Nabi kita yang mulia Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga, sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang dijanjikan, Amma ba’du:

Pada kesempatan yang mulia ini kita sampaikan sebuah kaidah yakni:

الطَّهَارَةُ بِاتَّيَمُّمِ كَالْطَهَارَةِبَالْـمَاءِ

BERSUCI MENGGUNAKAN TAYAMMUM
SEPERTI BERSUCI MENGGUNAKAN AIR

Kaidah ini berdasarkan firman Allah عزّوجلّ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua maia kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan me-nyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS al-Maidah [5]: 6)

Mari kita simak eBook ini, temukan dalil lainnya untuk kaidah ini, dan contoh penerapannya, semoga bermanfaat…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Kaidah Sunnah Tarkiyyah

Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kapada Allah عزّوجلّ atas segala nimat yang dianugerahkan-Nya kepada kita, kemudian shalawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم yang mana beliau adalah teladan kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini agar selamat sampai ketujuan… Amma ba’du:

Dikesempatan ini kita ketengahkan Kaedah Fikih yang berhubungan dengan menjadikan beliau صلى الله عليه وسلم sebagai teladan yakni:

 كُلُّ فِعْلٍ تَوَفَّرَ سَبَبُهُ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَلَـمْ يَفْعَلْهُ فَالْـمَشْرُوْعُ تَرْكُهُ

Setiap perbuatan yang sebabnya ada dizaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam , namun Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengerjakan perbuatan tersebut maka yang disyariatkan adalah meninggalkan perbuatan (yang tidak dilakukan) itu.

Kaidah ini menjelaskan bahwa perbuatan yang seharusnya bisa dan mudah dikerjakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم, namun Beliau صلى الله عليه وسلم tidak melakukannya tanpa unsur paksaan, maka kita juga harus meninggalkan perbuatan itu dalam rangka beribadah kepada Allah عزّوجلّ. Karena apabila perbuatan tersebut disyariatkan tentu Nabi صلى الله عليه وسلم tidak meninggalkannya.

Dalam eBook ini akan dijelaskan kaidah ini dengan contoh-contohnya yang mana intinya ketika seseorang mendapati suatu amalan yang diklaim sebagai amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah عزّوجلّ, maka hendaklah ia melihat apakah amalan itu pernah dilakukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم? Jika Beliau صلى الله عليه وسلم pernah melakukannya atau memerintahkannya maka tidak ada masalah jika dia mengamalkannya. Namun. jika ternyata tidak pernah dilakukan Nabi صلى الله عليه وسلم dan tidak pernah Beliau perintahkan padahal sebab pendorongnya telah ada maka hal itu menunjukkan bahwa yang disyariatkan adalah meninggalkan amalan tersebut.

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Mengkompromikan Dua Dalil Lebih Utama

Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada kita, selanjutnya shalawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, Amma ba’du:

Kaedah Fikih yang kita posting pada kesempatan yang mulia ini adalah:

إِعْمَالُ الدَّلِيْلَيْنِ أَوْلَى مِنْ إِهْمَالِ أَحَدِهِمَا مَا أَمْكَنَ

“Mengamalkan dua dalil sekaligus lebih utama daripada meninggalkan salah satunyaselamamasihmemungkinkan”

Kaidah ini menjelaskan patokan yangharus dipegang ketika kita menemui dua dalil yang nampaknya berseberangan atau bertentangan. Maka sikap kita adalah menjamak dan menggabungkan dua dalil tersebut selama masih memungkinkan. Karena keberadaan dalil-dalil itu untuk diamalkan dan tidak boleh ditinggalkan kecuali berdasarkan dalil yang Lain. Jadi hukum asalnya adalah tetap mengamalkan dalil tersebut.

Apabila ada dua dalil yang nampaknya berseberangan maka ada tiga alternatif dalam menyikapinya. Pertama. Kita menjamakkan dan mengkompromikan keduanya dengan mengkhusukan yang umum atau memberikan taqyid kepada yang mutlaq. Ini dilakukan apabila memang hal itu memungkinkan. Jika tidak memungkinmaka berpindah ke alternatif kedua, yaitu dengan an-naskh. Alternatif ini dilakukan dengan mencari dalil yang datangnya lebih akhirlalu kita jadikan sebagai nasikh (penghapus) kandungan dalil yang datang lebih awal, jika tidak memungkinkan juga, maka kita menempuh alternatif ketiga, yaitu kita mentarjih dengan memilih salah satu dari dua dalil tersebut mana yang lebih kuat.

Silahkan simak eBook ini lebih lanjut dan temukan contoh penerapannya…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Darurat Tidak Menggugurkan Hak Orang Lain

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على رسوله محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين، أما بعد

Sebagaimana telah kita Pahami bahwa seseorang yang berada dalam keadaan darurat, yang menyebabkannya harus mengonsumi sesuatu yang haram, maka ia diberikan udzur untuk melakukannya. Misalnya, orang yang sangat lapar dan tidak ada makanan yang didapatkan kecuali daging bangkai maka dalam keadaan itu diperbolehkan baginya untuk memakan daging tersebut sekedarnya. Allah عزّوجلّ berfirman:

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. (QS. Al-Baqarah/2:173)

Namun demikiantimbul pertanyaan apabila perbuatan seseorang mengambil atau mengkonsumsi perkara yang haram itu menyebabkan hilang atau rusaknya harta orang lain? Apakah ia wajib menggantinya ataukah tidak? Inilah yang dibahas dalam kaidah:

الاِضْطِرَارُ لاَ يُبْطِلُ حَقَّ الغَيْرِ

Keadaan Darurat Tidak Menggugurkan Hak Orang Lain

Semoga kita dapat memahami kaidah ini, dan semoga Allah عزّوجلّ melapangkan dan melindungi kaum muslimin, amin…

Download:
Download CHM atau Download ZIP dan Download PDF atau Download Word

Kaidah Fikih: Yang Haram Dinikahi

Nama eBook: Kaidah Fikih: Yang Haram Dinikahi
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد

Manusia adalah makhluk yang sosial dan makhluk yang membutuhkan kasih dari lawan jenisnya, Islam mengakui firah manusia ini, namun supaya jangan jatuh kedalam sifat kebinatangan maka diaturlah sedemikian rupa dalam mahligai pernikahan, adapun pada kesempatan yang mulia ini akan disampaikan kaidah tentang yang haram untuk dinikahi…

كُلُّ أَقَارِبِ الرَّجُلِ حَرَامٌ عَلَيْهِ إِلاَّ أَربَعَةً

وَكُلُّ الأَصْهَارِ حَلاَلٌ إِلاَّ أَرْبَعَةً

SEMUA KERABAT HARAM DINIKAHI KECUALI EMPAT,

SEDANGKAN SEMUA IPAR HALAL DINIKAHI KECUALI EMPAT

Penulis -semoga Allah menjaganya- dalam eBook ini menyebutkan dalil kaidah dan menjabarkan kaidah ini yakni siapa-siapa saja yang haram dinikahi, selamat menyimak…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Kaidah Fikih Tentang Pengaturan Rakyat

Nama eBook: Pengaturan Rakyat Tergantung Pada Kemashlahatan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Alhamdulillah, kemudian shalawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang pasti, Amma ba’du:

Dikesempatan kali ini kami posting eBook Kaidah Fiqih yakni:

التَّصَرَفُّ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْـمَصْلَحَةِ

Pengaturan Rakyat Tergantung Pada Kemashlahatan

makna kaidah ini secara global adalah bahwasanya keputusan apa pun yang muncul dari pemimpin yang mengatur dan mengurusi urusan manusia, hendaknya dibangun untuk mewujudkan kemashlahatan bagi mereka dan menolak kerusakan dari mereka.

Contoh penerapan kaidah ini amatlah banyak, diantaranya:

  1. Boleh bagi pemerintah untuk membuat peraturan-peraturan demi kemashlahatan rakyat sekalipun tidak ada dalil perintahnya dalam agama, seperti peraturan lalu lintas, pencatatan akad nikah di KUA, dan sebagainya, karena itu untuk kemashlahatan bagi rakyat demi menjaga nyawa dan nasab mereka. Maka wajib bagi rakyat untuk menaatinya.
  2. Tidak boleh bagi pemerintah untuk membuat undang-undang yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, karena hal itu tidak mengandung kemashlahatan bagi umat, bah-kan akan membawa mafsadat (kerusakan) di tengah-tengah mereka, seperti misalnya kalau ada peraturan larangan berjilbab bagi wanita muslimah atau larangan poligami, larangan berjenggot, dan sebagainya. Dalam kondisi ini, peraturan tersebut tidak boleh ditaati karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah عزّوجلّ.
  3. Wajib bagi pemerintah untuk mengangkat para menteri dan pegawai pemerintahan yang memiliki skill (keahlian/keterampilan) yang mumpuni di bidangnya lagi amanah sehingga tidak terjatuh dalam berbagai skandal yang memalukan baik skandal harta maupun wanita.
  4. Wajib bagi pemerintah untuk mengelola dan menyalurkan uang anggaran negara untuk program-program pro-rakyat dan tidak diperkenankan bagi pemerintah untuk menyelewengkan harta rakyat (baca: KKN).
  5. Tidak boleh bagi pemerintah untuk melegalkan tempat-tempat praktik dan produksi yang rusak dan merusak seperti tempat yang berpotensi untuk tindak kesyirikan, judi, narkoba, pelacuran, dan sebagainya, sekalipun dengan alasan pajak dan devisa negara karena hal itu justru akan merusak rakyat.
  6. Hendaknya orang tua mencarikan pasangan terbaik untuk putra-putrinya ketika menginjak masa nikah yaitu yang baik dari segi agama dan akhlaqnya, bukan sekadar pangkat dan ketampanan semata. dsb..

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

5 Pokok Tujuan Syari’at Islam

Nama eBook: 5 Tujuan Pokok Syari’ah
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Alhamdulillah, kemudian shalawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang pasti, Amma ba’du:

Dikesempatan yang mulia ini kita ketengahkan eBook Kaidah Fiqih yakni 5 Tujuan Pokok Syari’at Islam yang hanif ini, ilmu ini merupakan ilmu agama yang sangat istimewa dan menjadi pusat perhatian para ulama karena pada hakikatnya adalah membahas tentang maksud dan tujuan Allah meletakkan hukum dan syari’at kepada hamba.

Dengan memahami maqashidu syari’ah (tujuan pokok syari’at Islam) ini, kita akan memetik beberapa faedah:

  1. Mengetahui keindahan dan kesempurnaan syari’at Islam yang mulia, karena semua syari’atnya dibangun di atas hikmah dan kemaslahatan bagi hamba.
  2. Mengenal tingkatan maslahat dan mafsadat yang sangat penting diketahui tatkala terjadi benturan.
  3. Menjadikannya sebagai timbangan untuk mengetahui berbagai cabang permasalahan yang banyak terjadi dalam kehidupan.

Silahkan baca eBook ini dan jika kita semua mampu menjaga lima pokok tujuan syari’at Islam, maka kita akan merasa aman dalam agama, akal, nasab, harta, dan nyawa kita. Inilah keindahan agama Islam.

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Menutup Jalan Menuju Kemunkaran

Nama eBook: Kaidah Fikih: Menutup Jalan Menuju Kemunkaran
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

Alhamdulillah, shalawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Muahammad صلى الله عليه وسلم, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, Amma ba’du:

Bersyukur kita kepada Allah عزّوجلّ yang mana kita telah berkesempatan memposting beberapa kaedah Fiqh dan pada kesempatan ini kita sampaikan kaedah:

سَدُّ الذَّرِيْعَةِ

Menutup Jalan Menuju Kemunkaran

Arti dari kaedah ini adalah Mencegah dan menahan jalan-jalan yang tampaknya hukumnya mubah, namun bisa menjerumuskan pada perkara yang haram, demi mengikis habis sebab keharaman dan kemaksiatan.

Salah satu dalil dari kaidah ini adalah Alloh Ta’ala:

عوَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh, karena mereka nanti akan memaki Alloh dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. (QS. al-An’am [6]: 108)

Di ayat ini Alloh melarang mencela tuhan-tuhan dan sembahan orang musyrik—padahal sebenarnya ini adalah sebuah amal yang utama—karena dikhawatirkan akan menjadi jalan bagi mereka untuk mencela Alloh Ta’ala.

Silahkan baca kaidah ini selanjutnya yang mana didalamnya penulis –semoga Allah menjaganya- akan menjelaskan lahirnya kaidah ini, makna kaidah, dalil kaidah, syarat penggunaan kaidah ini dan contoh penerapannya.

Download:
Kaidah Fikih: Menutup Jalan Menuju Kemunkaran

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Kaidah Fikih: Pada Asalnya Ibadah itu Haram

Nama eBook: Kaidah Fikih: Pada Dasarnya Ibadah Itu Terlarang
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf خفظه الله

Alhamdulillah, kemudian shalawat dan salam buat Nabi kita yang mulia Muhammad صلى الله عليه وسلم dan juga buat keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, Amma ba’du:

Bersyukur kita kepada Allah عزّوجلّ, dikesempatan yang mulia ini kita memposting kaedah Fiqh yang menjadi salah satu dari dua pedoman dalam menjalankan  Ibadah kepada Allah عزّوجلّ dan bermu’amalah:

الأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْحَظْرُ، وَ الْأَصْلُ فِي العَادَاتِ الْإِبَاحَةُ

Pada Dasarnya Ibadah Itu Terlarang, Sedangkan Adat Itu Dibolehkan

Baca pos ini lebih lanjut