Keutamaan Adab dan Sejarah Penulisannya

Nama eBook: Keutamaan Adab dan Sejarah Penulisannya
Penulis: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada

Pengantar:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan sahabatnya dan yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

Sesungguhnya adab yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana telah dititi oleh generasi awal Islam adalah hal yang sangat dibutuhkan terutama pada zaman sekarang ini. Para ulama terdahulu yang mulia sangat perhatian dalam masalah adab ini, berikut sebagian kutipannya:

Dikatakan kepada Imam asy-Syafi’i: “Bagaimana hasratmu terhadap adab? Dia menjawab: “Aku mendengar satu huruf dari adab yang belum pernah aku dengar, maka seluruh anggota badanku ingin memiliki pendengaran hingga dapat merasakan kenikmatan mendengarnya.” Dikatakan; “Bagaimana keinginanmu untuk mendapatkannya?” Dia menjawab: “Seperti keinginan seorang wanita yang kehilangan anaknya, sedang ia tidak memiliki anak selainnya.”

Adz-Dzahabi رحمه الله menyebutkan: “Bahwasanya majelis Imam Ahmad dihadiri oleh Lima ribu orang, Lima ratus diantaranya mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak, dan adab beliau”

Begitu pentingnya masalah Adab ini sehingga para ulama menuliskan kitab khusus atau menuliskan Adab dalam kitab-kitab mereka, salah satunya Adabul Mufrad karya imam yang mulia Imam Bukhari rahimahullah…

Selain tema diatas, dalam eBook kali ini kami sertakan pada versi CHM ‘Barometer Akhlak Mulia’ tulisan ustadz Muhammad Zaen, MA., selamat menikmati….

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Download Barometer Akhlak Mulia:

Download PDF atau Download Word

Iklan

Tafsir Surat At-Takwiir

Nama eBook: Tafsir Surat At-Takwiir (Menggulung)
Penulis: Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i رحمه الله

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ. وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ. وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ. وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ. وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ. وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ. وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ. وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ. وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ. وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ. وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ. فَلا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ. الْجَوَارِ الْكُنَّسِ. وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ. وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ. إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ. مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ. وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُونٍ. وَلَقَدْ رَآهُ بِالأفُقِ الْمُبِينِ. وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِينٍ. وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ. فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ. إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ. لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ. وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

Apabila matahari digulung,dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan. Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? Dan apabila catatan-catatan (amalperbuatan manusia) dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila Surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. Sungguh, aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggal-kan gelapnya, dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam Malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorangyang bakhil untuk menerangkan yang ghaib. Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam. (QS. At-Takwir/81: 1-29)

Selamat menyimak tafsir surat At-Takwiir…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Tafsir Surat Al-Infithaar

Nama eBook: Tafsir Surat Al-Infithaar (Terbelah)
Penulis: Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i رحمه الله

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ. وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ. وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ. وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ. يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ.كَلا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ. وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ. إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ. وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ. يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ. وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. يَوْمَ لا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالأمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ.

Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu (berbuat durhaka) terhadap Rabb-mu Yang Mahapemurah. Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)-mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagimu ada (Malaikat-Malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam Surga yangpenuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam Neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari Neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS. Al-Infithaar/82: 1-19)

Selamat menyimak tafsir surat ini…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Hukum Pelaku Besar Menurut Imam Syafi’i

Nama eBook: Hukum Pelaku Besar Menurut Imam asy-Syafi’i rahimahullah
Penyusun: Dr. Muhammad bin A.W. Al-‘Aqil حفظه الله

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Islam adalah umat pertengahan, demikian pula Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan dari orang-orang ahli bid’ah wal hawa, diantaranya adalah  terhadap para pelaku kemaksiatan dari ahli kiblat ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempunyai sikap pertengahan antara sikap Khawarij dan Mu’tazilah yang berlebihan, dan sikap kelompok Murjiah yang sangat longgar.

Orang-orang Khawarij mengatakan bahwa orang Islam yang berbuat al-kabiirah (dosa besar) menjadi kafir jika tidak bertaubat dan ia akan kekal di Neraka. Hanya saja, mereka berselisih pendapat tentang jenis kekufuran orang ini. Mu’tazilah mengatakan si pelaku dosa besar akan kekal di Neraka, namun orang seperti ini di dunia berada di antara dua posisi, ia bukan kafir dan bukan Mukmin (manzilah bainal manzilatain).

Sementara itu, Murjiah mempunyai pandangan bahwa orang yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallaah adalah Mukmin yang sempurna imannya, dan setiap Mukmin pasti masuk Surga. Sebagian mereka telah melampaui batas dengan mengatakan bahwa dosa tidak mempengaruhi iman, sebagaimana ketaatan itu tidak bermanfa’at jika disertai kekufuran.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa dosa besar yang dilakukan seorang Mukmin tidak menjadikannya keluar dari iman selama tidak menganggap dosa yang dikerjakannya itu boleh atau halal. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Mukmin yang berbuat suatu dosa besar, jika ia meninggal sebelum bertaubat, maka ia tidak kekal dalam Neraka, sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits. Bahkan, urusannya diserahkan kepada Allah, apakah Allah Azza wa Jalla akan mengampuni atau menyiksanya sesuai dosa yang dikerjakannya. Kemudian, ia dimasukkan ke Surga dengan rahmat-Nya.

Baca pos ini lebih lanjut

Imam Syafi’i dan Dzikir Berjama’ah

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah yang Mahaperkasa dan Mahamendengar yang Dia dekat dengan hamba-Nya…Karena Allah dekat dengan hamban-Nya dan Mahamendengar maka Ia memerintahkan hamba-Nya berdo’a dan berdzikir dengan suara yang lembut dan tidak mengeraskannya, Ia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al A’raf/7: 55)

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, di waktu pagi dan petang, dan dengan tidak mengeraskan suara, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf/7: 205)

Baca pos ini lebih lanjut

Dimana Allah Menurut Ulama Syafi’iyyah

Nama eBook: Ulama Syafi’iyyah Menegaskan Allah di Arsy
Penulis: Ustadz Ubu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah azza wa jalla yang memberi berbagai nikmat kepada kita terutama nikmat Islam dan pemahaman yang benar dalam menjalankannya. Sholawat dan salam bagi nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, para ulama dan awam kaum muslimin yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga hari kiamat.

Diantara aqidah ahlus sunnah adalah meyakini Ke-Mahatinggi-an Allah azza wa jalla, Imam Abu Hasan al-Asy’ari -semoga Allah merahmatinya- berkata:

وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ :الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

”Dan bahwasanya Allah di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya, ‘Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) tinggi di atas ‘Arsy.’”

Baca pos ini lebih lanjut

Ngalap Berkah dan Ulama Madzhab Syafi’i

Nama eBook: Ngalap Berkah dalam Ulasan Ulama Syafi’iyyah
Penulis: Ustadz Ubu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah azza wa jalla yang telah mengaruniakan berbagai nikmat yang tak terhingga untuk kita. Sholawat dan salam bagi nabi utusan-Nya Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, para ulama dan awam kaum muslimin yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hingga hari akhir.

Setiap orang pasti ingin meraih keberkahan dalam hidupnya, dalam ilmunya, hartanya, keluarganya, usahanya, dan sebagainya. Tak aneh, dalam Islam kita dianjurkan acapkali bertemu dengan saudara kita untuk saling mendo’akan keberkahan seraya mengatakan “Assalamu’alaikum warahmahtullahi wabarakatuhu” (Semoga keselamatan atas kalian dan rahmat Allah serta keberkahan atas kalian).

Hanya, masalahnya, banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam mencari keberkahan ini. Mereka malah mencarinya dengan hal-hal yang tidak bisa mendatangkan keberkahan menurut kaca-mata Islam dan tidak sesuai dengan runtunan Nabi صلى الله عليه وسلم sehingga mereka terjerumus pada budaya jahiliah yang ngalap berkah dengan salah kaprah.

Para ulama salaf telah memperingatkan kita semua akan masalah ini. Di antara deretan para ulama yang gencar menjelaskan masalah ini adalah para ulama mazhab Syafi’i. Berikut dalam eBook ini sedikit penjelasan tentang jerih payah para ulama Syafi’iyyah dalam menguak masalah ini. Semoga bermanfaat, amin…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Ulama Syafi’iyyah VS Taklid Buta

Nama eBook: Ulama Syafi’iyyah Melarang Taklid Buta
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, MA حفظه الله

Alhamdulillah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah azza wa jalla yang memberikan hidayah Islam kepada kita. Sholawat dan salam bagi nabi utusan-Nya Muhammad bin Abdullah shallallahu alaihi wasallam yang merupakan panutan kita dalam menjalankan agama Islam agar benar ke-Islaman kita.

Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i -semoga Allah merahmatinya- dan para ulama yang menisbatkan diri kepada madzhabnya telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti (ittiba’) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menghindari serta memperingatkan umat dari mengikuti pendapat tanpa dalil (taklid buta) dari al-Qur’an dan Sunnah sebagimana telah dipahami dan dijalankan generasi terdahulu yang sholeh.

Imam as-Syafi’i rahimahullah berkata:

كُلُّ مَاقُلْتُهُ فَكَنَ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم خِلَافُ قَولِيْ مِمَّا صَحَّ، فَهُوَ أَوْلَى، وَلَا تُقَلِّدُوْنِيْ

“Setiap apa yang aku katakan lalu ada hadits shohih dari Rosululloh shallallahu alaihi wasallam yang menyelisihi ucapanku maka hadits lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taklid kepadaku.”‘

إِذَا صَحَّ الْـحَدِيْثِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَخُذُوْابِهِ وَدَعُوْا قَوْلِيْ

“Apabila telah shohih hadits dari Rosululloh shallallahu alaihi wasallam maka ambillah dan tinggalkan pendapatku.”

إِذَا صَحَّ الْـحَدِيْثُ فَهَوَ مَذْهَبِيْ

“Apabila ada hadits shohih maka itulah madzhabku.”

Demikianlah beliau berkata dan alhamdulillah ulama pengikut beliau baik yang menisbatkan kepadanya maupun tidak telah mewarisi dan menjalankan petuah beliau tersebut, dan melalui laman muka ini kami berdo’a agar kaum muslimin melepaskan belenggu fanatik yang lahir dari taklid dan kembali kepada Allah dan Rasul-nya, sebagai perwujudan kita sebagai pengikut madzhab Syafi’i, amin…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Imam an-Nawawi VS Bid’ah

Imam Nawawi رحمه الله adalah seorang ulama terkemuka yang menghabiskan usianya untuk mempelajari ucapan hamba termulia—yaitu Muhammad صلى الله عليه وسلم.— Hampir seluruh waktunya beliau gunakan untuk mendengarkan hadits-hadits dari lisan pada pembesar ulama di Syam dan meneliti permasalahan-permasalahan pelik dalam sunnah-sunnah Rasul. Beliau sangat konsisten dengan apa yang telah ia ilmui dari al-Kitab dan as-Sunnah. Beliau telah menggabungkan antara ilmu dan amal.

Di masa-masa kehidupannya yaitu pada abad ke-7 Hijriah, beliau banyak menjumpai amalan yang berseberangan dengan sunnah Abul Qasim (Muhammad) صلى الله عليه وسلم. Mereka mengada-adakan ibadah yang tidak ada asalnya dalam agama Allah عزّوجلّ ini (baca: bid’ah). Maka bangkitlah Imam Nawawi رحمه الله karena kecintaan beliau terhadap sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم. Beliau membangunkan manusia dari kelalaiannya dan memperingatkan mereka dari bahaya bid’ah dan para penghasung kesesatan tersebut, seraya mengibarkan seruan untuk tetap teguh berpegang kepada al-Kitab dan as-Sunnah dan menyingkirkan dari selain keduanya.

Berikut [dalam ebook] beberapa contoh nyata pengingkaran beliau terhadap perbuatan-perbuatan bid’ah yang diada-adakan di masa hidup beliau:

Download:
Silahkan Download via:

 IbnuMajjah.Com
Baca pula tulisan Madzhab Syafi’iyah

Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan

Nama eBook: Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Mukhtar as-Sidawi خفظه الله

Pengantar:

Istilah “tahlilan” atau “slametan” sudah sangat populer di telinga kita semua, lantaran sudah menjadi adat istiadat klasik dan tradisi mayoritas kaum muslimin termasuk negeri Indonesia Raya ini, baik pedesaan maupun perkotaannya. Ritual yang satu ini seakan sudah mendarah daging dan menjadi prevalensi (kelaziman) yang mengikat masyarakat tatkala tertimpa musibah kematian sehingga sangat jarang keluarga yang tidak menyelenggarakan ritual ini karena takut diasingkan masyarakatnya.

Ironinya, mereka menganggap ritual ini merupakan salah satu bentuk ibadah. Mereka juga mencuatkan opini publik bahwa ritual ini adalah ciri khas penganut madzhab Syafi’i.

Benarkah demikian…sama sekali tidak bahkan bertolak belakang dengan para ulama madzhab Syafi’iyah dimana mereka mengingkari dengan tegas ritual semacam ini dengan bebagai variasinya…apa iya?!

Ya..itu benar lihatlah perkataan para ulam Syafi’iyyah berikut:

1. Imam Syafi’i berkata:

“Dan saya membenci berkumpul-kumpul (dalam kematian) sekalipun tanpa diiringi tangisan karena hal itu akan memperbaharui kesedihan dan memberatkan tanggungan (keluarga mayit) serta berdasarkan atsar (hadits) yang telah lalu. “

2. Imam Nawawi mengutip perkataan Imam Ibnu Shabbagh:

“Adapun apabila keluarga mayit membuatkan makanan dan mengundang manusia untuk makan-makan, maka hal itu tidaklah dinukil sedikit pun bahkan termasuk bid’ah, bukan sunnah.”

Baca pos ini lebih lanjut