Risalah Cinta Yang Merindu

Nama eBook: Risalah Cinta Yang Merindu
Penulis: Ustadz Ali Ahmad bin Umar حفظه الله

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Ini adalah sebuah buku yang sarat akan dalil dan syair yang indah, buku ini kami peroleh dari grup WA yang dikirim seorang teman ahlus sunnah di Riau, untuk menambah manfaat kami bagikan diblog ini

Buku ini cukup tebal yang disusun secara Indah -dengan latar belakang beliau hafizhohullah seorang melayu riau- penuh syair dan dalil yang sesuai dengan al-Qur’an, as-Sunnah dan pemahaman salafus shaleh, beliau membuka bukunya:

Risalah Cinta
Yang Merindu

Dalam do’a kukirim Risalah Cintaku
Mengantar Berita dari hati yang merindu
Ingin kuraih harapan cinta kemuliaan
Tapi dunia merayuku dengan cintanya
Hatiku bimbang diantara persimpangan
Fatamorgana, gerbang kepastiaan dan Masa depan
Kuharap do’a cinta dari rindumu
Karena terkabulnya do’a
dalam kerahasiaan cinta dan perjalanan

Diantara ucapan beliau: Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

33 Bait Syair Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

الـمنظومة الـحائية في عقيدة أهل السنة والـجماعة

للامام أبو بكر بن أبي داود السجستاني رحمهما الله

Imam Abu Bakar bin Abu Dawud as-Sijistani  رحمهما الله

 ******

تَـمَسَّكْ بِـحَبْلِ اللهِ وَاتَّبِعِ الـهُدَى * وَلاَ تَكُ بِدْعِيّاً لَعَلَّكَ تُفْلِحُ

Berpegang Teguhlah dengan Tali Allah dan ikutilah petunjuk * dan janganlah kamu menjadi pelaku bid’ah, agar kamu beruntung

وَدِنْ بِكِتَابِ اللهِ وَالسُّنَنِ الَّتِي * أَتَتْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ تَنْجُو وَتَرْبَحُ

Beragamalah dengan dasar kitab Allah dan Sunnah * yang datang dari Rasulullah, kamu akan selamat dan beruntung

وَقُلْ: غَيْرُ مَـخْلُوْقٍ كَلاَمُ مَلِيْكِنَا * بِذَلِكَ دَانَ الأَتْقِيَاءُ وَأَفْصَحُوا

Katakanlah: Firman Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk * dengan itulah orang-orang yang bertakwa berkeyakinan, dan dengan lantang mereka berkata

وَلاَ تَكُ فِي القُرْآنِ بِالوَقْفِ قَائِلاً * كَمَا قَالَ أَتْبَاعٌ لِـجَهْمٍ وَأَسْجَحُوا

Janganlah menjadi orang yang menahan diri dari berbicara tentang Al-Qur’an * seperti yang dikatakan pengikut Jahm (Ibn Shofwan), dan mereka pun bermudah-mudahan

وَلاَ تَقُلِ: القُرْآنُ خَلْقٌ قَرَأْتُهُ * فَإِنَّ كَلاَمَ اللهِ بِاللَّفْظِ يُوْضَحُ

Janganlah mengatakan bacaanku dengan Al-Qur’an adalah makhluk * sesungguhnya Firman Allah ketika dilafazkan harus di jelaskan

وَقُلْ: يَتَجَلَّى اللهُ لِلْخَلْقِ جَهْرَةً * كَمَا البَدْرُ لاَ يَـخْفَى وَرَبُّكَ أَوْضَحُ

Baca pos ini lebih lanjut

Imam Syafi’i VS Syair

Sebagai kelanjutan dari serial Mengenal Aqidah Imam Syafi’i Lebih Dekat pada pembahasan kali ini kita angkat topik “Celaan Imam Syafi’i رحمه الله terhadap orang yang mengutamakan lantunan syair-syair zuhud dari membaca dan memahami Al-Qur’an”

Pada zaman sekarang banyak sekali bentuk metode ibadah yang dibuat-buat oleh orang-orang yang ingin mencari keuntungan duniawi. Tanpa memperhatikan tentang kaidah-kaidah yang diterangkan oleh syariat. Bahkan sesuatu yang maksiat dijadikan ibadah.

قال الإمام الشافعي رحمه الله تعالى : تركت بالعراق شيئا يقال له : “التغيير” أحدثته الزنادقة يصدون الناس عن القرآن

Berkata Imam Syafi’i رحمه الله, “Aku tinggalkan sesuatu di Baghdad yang disebut “At Tahgbiir“, hal tersebut dilakukan orang-orang zindiq untuk melalaikan manusia dari Al-Qur’an.” [1]

Menurut para ulama “At-Tahgbiir” adalah berzikir atau melantunkan sya’ir-sya’ir zuhud dengan suara merdu, hal ini kebiasaan orang-orang sufi.[2]

Ditanah air banyak kita dapatkan hal-hal seperti ini, kadang-kadang dalam membaca Al-Qur’an atau salawat didendangkan dengan irama-irama nyanyi dangdut atau yang seumpanya. Waktunya kadang-kadang sebelum adzan atau setelah adzan. Bahkan ada sebuah acara yang yang mereka sebut dubaan atau terbangan, disitu mereka melantunkan syair-syair yang di iringi gendang-gendang, isi syair-syiar tersebut kadang-kadang dicampuri kesyirikan, mereka berkumpul untuk melakukannya setelah shalat Isya’ sampai larut malam. Mereka menganggap hal tersebut sebuah ibadah yang utama untuk dilakukan. Pesertanya biasanya kebanyakan orang-orang yang sering kali tidak shalat, kalaupun shalat tidak pernah berjamaah.

Baca pos ini lebih lanjut