Makanan Acara Kematian

Nama eBook: Makanan Acara Kematian
Penyusun: Ustadz Aris Munandar حفظه الله

Pengantar:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

Dari Abdullah bin Ja’far رضي الله عنهما, tatkala kabar kematian Ja’far رضي الله عنه sampai kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda, “Buatkan makanan untuk keluarga Ja’far karena saat ini ada sesuatu yang menyibukkan mereka.” (HR at-Tirmidzi no. 1014 dll. At-Tirmidzi menilai hadits ini sebagai hadits hasan.)

Setelah menyebutkan hadits tersebut imam Tirmidzi -semoga Allah merahmati beliau- berkata:

وَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ شَيْءٌ لِشُغْلِهِمْ بِالْمُصِيبَةِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ

“Sebagian ulama menganjurkan agar ada suatu makanan yang dikirimkan kepada keluarga mayit karena saat ini mereka sibuk dengan musibah yang terjadi. Ini adalah pendapat al-lmam asy-Syafi’i.”

Namun dibanyak tempat dinegeri kita ini yang terjadi adalah kebalikannya, dimana diadakan acara di rumah keluarga mayit dan disertai makan-makan, semoga Allah azza wa jalla menunjuki kita kaum muslimin mengikuti sunnah utusan-Nya Muhammad  shallallahu alaihi wasallam, Amin…

Catatan: file CHM link pertama kami gabungkan dengan eBook sebelumnya yakni Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan, sedangkan CHM link mirror kami gabungkan dengan eBook hadits lainnya, semoga bermanfaat…

Download:

Download:
Download CHMmirror Download CHM atau Download PDF atau Download Word

Iklan

Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan

Nama eBook: Ulama Syafi’iyyah VS Tahlilan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Mukhtar as-Sidawi خفظه الله

Pengantar:

Istilah “tahlilan” atau “slametan” sudah sangat populer di telinga kita semua, lantaran sudah menjadi adat istiadat klasik dan tradisi mayoritas kaum muslimin termasuk negeri Indonesia Raya ini, baik pedesaan maupun perkotaannya. Ritual yang satu ini seakan sudah mendarah daging dan menjadi prevalensi (kelaziman) yang mengikat masyarakat tatkala tertimpa musibah kematian sehingga sangat jarang keluarga yang tidak menyelenggarakan ritual ini karena takut diasingkan masyarakatnya.

Ironinya, mereka menganggap ritual ini merupakan salah satu bentuk ibadah. Mereka juga mencuatkan opini publik bahwa ritual ini adalah ciri khas penganut madzhab Syafi’i.

Benarkah demikian…sama sekali tidak bahkan bertolak belakang dengan para ulama madzhab Syafi’iyah dimana mereka mengingkari dengan tegas ritual semacam ini dengan bebagai variasinya…apa iya?!

Ya..itu benar lihatlah perkataan para ulam Syafi’iyyah berikut:

1. Imam Syafi’i berkata:

“Dan saya membenci berkumpul-kumpul (dalam kematian) sekalipun tanpa diiringi tangisan karena hal itu akan memperbaharui kesedihan dan memberatkan tanggungan (keluarga mayit) serta berdasarkan atsar (hadits) yang telah lalu. “

2. Imam Nawawi mengutip perkataan Imam Ibnu Shabbagh:

“Adapun apabila keluarga mayit membuatkan makanan dan mengundang manusia untuk makan-makan, maka hal itu tidaklah dinukil sedikit pun bahkan termasuk bid’ah, bukan sunnah.”

Baca pos ini lebih lanjut