39 Kesalahan Memandikan dan Mengafani Mayat

Nama eBook: 39 Kesalahan Ketika Memandikan dan Mengafani Mayat
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Kita sajikan kembali eBooks berseri seputar kesalahan dalam penyelenggaran jenazah dan yang berhubungan dengannya, kali ini adalah bersama 39 Kesalahan Ketika Memandikan dan Mengafani Mayat, diantara kesalahan tersebut ialah:

  1. Meletakkan roti dan satu kendi air di tempat sang mayat dimandikan selama tiga malam sesudah kematiannya,
  2. Menyalakan penerangan atau lentera di tempat mayat dimandikan selama tiga malam, sejak terbenam matahari hingga terbit fajar. Memberi penerangan ini pada sebagian mereka, bahkan selama tujuh malam, dan sebagian lagi lebih dari tujuh malam,
  3. Orang-orang yang memandikan mayat membaca zikir-zikir tertentu pada tiap-tiap anggota badan yang dicucinya,
  4. Memindahkan mayat untuk dikubur di tempat yang jauh agar dapat berdampingan dengan kuburan orang saleh, semisal Ahlul Bait,
  5. Menuliskan doa pada kain kafan,
  6. Menghiasi jenazah,
  7. Membawa mahkota, bunga-bunga, dan potret sang mayat di depan iring-iringan jenazah,
  8. Keyakinan sebagian orang bahwa apabila mayat termasuk orang yang saleh akan terasa ringan jenazahnya bagi para pengusungnya dan cepat perjalanan mengantarkannya.

Download:

 Download PDF atau Download Wordmirror PDFDownload PDF

Iklan

31 Kesalahan Sebelum dan Sesudah Kematian

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Sebelum dan Sesudah Kematian
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Telah kita sajikan secara berseri sebelumnya seputar kesalahan dalam penyelenggaran jenazah dan yang berhubungan dengannya, kali ini dalam topik yang sama kita bentangkan bersama 31 kesalahan sebelum dan sesudah kematian, diantara kesalahan tersebut ialah:

  1. Keyakinan sebagian orang bahwa setan mendatangi orang yang hampir mati dalam sosok kedua orang tuanya dengan mengenakan pakaian Yahudi dan Nasrani, dengan memaparkan segala bentuk millah (aliran agama) untuk menyesatkan,
  2. Membacakan surat Yasin di hadapan orang yang akan mati,
  3. Meletakkan mushaf (al-Qur’an) di atas kepala orang yang akan meninggal,
  4. Mengeluarkan (menjauhkan) orang yang sedang haid, nifas, dan yang dalam keadaan junub dari orang yang akan meninggal,
  5. Meninggalkan pekerjaan hingga tujuh hari bagi orang yang menghadiri keluarnya roh dari orang yang menjelang mati,
  6. Keyakinan sebagian orang bahwa roh orang akan mati gentayangan di sekitar tempat kematiannya,
  7. Tidak menggunakan air yang ada di rumah, termasuk yang ada di gentong. Mereka menganggap air itu najis, dengan alasan roh orang yang mati ketika keluar dari badan mencelupkan diri ke dalamnya,
  8. Membiarkan pakaian orang yang sudah mati sampai tiga hari tidak dicuci, dengan keyakinan bahwa hal itu dapat mencegah azab kubur.

Download:

 Download PDF atau Download Word

24 Kesalahan Sekitar Penguburan

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Penguburan dan Penyertanya
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Telah kita sajikan eBook 110 kesalahan sekitar ziarah kubur, 29 kesalahan sekitar ta’ziyah, dan sekarang kita sajikan 24 kesalahan sekitar penguburan, diantara kesalahan tersebut ialah:

  1. Berzikir di sekitar keranda sang mayat sebelum dikubur,
  2. Melakukan azan ketika memasukkan mayat ke dalam liang lahat,
  3. Menyirami sang mayat dengan air kembang di kuburnya,
  4. Membaca minhaa khalaqanaakum (darinya Kami ciptakan kalian pada lemparan pertama), dan Wafiihaa nu’iidukum (dan kepadanya Kami kembalikan) pada lemparan kedua, dan waminhaa nukhrijukum taaratan ukhraa’ (dan darinya Kami keluarkan kalian pada kesempatan lain) pada lemparan ketiga,
  5. Menalkini mayat,
  6. Meletakkan makanan dan minuman di atas kuburan agar diambil oleh orang-orang,
  7. Bersedekah di kuburan,
  8. Menyirami kuburan dengan air dari arah kepala kemudian di sekitarnya, dan sisanya disiramkan di bagian tengahnya.

Download:

 Download PDF atau Download Word

29 Kesalahan Ketika Ta’ziyah

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Ketika Ta’ziyah
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Sebelumnya telah kita posting 110 kesalahan sekitar ziarah kubur, pada kesempatan ini kita posting pula kesalahan-kesalahan sekitar ta’ziyah, diantara kesalahan tersebut ialah:

  1. Berta’ziyah di kuburan,
  2. Berkumpul di suatu tempat untuk berta’ziyah,
  3. Mengundang tamu membuat makanan di rumah keluarga sang mayat,
  4. Mengundang tamu pada hari pertama, ketujuh, keempat puluh, dan genap setahun,
  5. Keluarga yang ditinggalkan membuat makanan pada hari Kamis pertama,
  6. Ucapan sebagian orang, “Makanan yang dihidangkan tidak boleh diangkat selama tiga hari tiga malam, kecuali oleh orang yang me-letakkannya sendiri.”,
  7. Berwasiat melakukan kenduri pada hari kematiannya atau sesudahnya, dan mewasiatkan pula untuk memberi uang tertentu bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an untuk ruhnya, atau yang ikut tasbih atau tahlilan,
  8. Berwasiat agar ada orang-orang yang bermalam di kuburannya selama kurang-lebih 40 hari,
  9. Wali orang yang meninggal bersedekah sebelum malam pertama dari kematiannya sesuai dengan kemampuannya. Bila ia tidak mampu, maka ia melakukan shalat dua rakaat dan pada setiap rakaat membaca al-Fatihah, ayat Kursi, dan membaca surat at-Takatsur sepuluh kali. Usai melakukannya, ia berdoa, “Ya Allah, aku lakukan shalat ini sedang Engkau Maha Mengetahui apa maksudku. Ya Allah anugerah-kan pahalanya untuk penghuni kubur, si Fulan sang mayat.”

Download:

 Download PDF atau Download Word

110 Kesalahan Ketika Ziarah Kubur

Nama eBook: Kesalahan-Kesalahan Ketika Ziarah Kubur
Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Seorang muslim mestinya mengetahui kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan agama, bukan untuk mengamalkannya namun untuk terhindar dari berbagai kesalahan tersebut.

Berbagai kesalahan (baca: bid’ah) dalam urusan agama berpangkal dari beberapa masalah berikut:

  1. Setiap perkara yang menyalahi As-Sunnah, baik berupa ucapan, amalan, maupun akidah, sekalipun dari hasil ijtihad,
  2. Setiap perkara yang dijadikan sarana untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, sementara Rasulullah telah melarangnya,
  3. Setiap perkara yang tidak mungkin disyariatkan kecuali dengan nash (dalil)namun tidak ada nashnya—maka itu termasuk perkara bid’ah, kecuali bila amalam sahabat,
  4. Adat-adat orang kafir yang dimasukkan ke dalam peribadahan,
  5. Apa-apa yang dikatakan ulama kontemporer (sekarang) sebagai amalan mustahab (disukai/sunnah) tanpa adanya dalil,
  6. Setiap tata cara peribadatan yang dijelaskan lewat hadits dhaif (lemah) atau maudhu’ (palsu),
  7. Segala sikap berlebihan (ghuluw) dalam peribadahan,
  8. Setiap peribadahan yang dimudahkan oleh syariat, kemudian dibatasi oleh orang-orang, seperti tempat, waktu, atau tata cara dan hitungan-nya.

Dalam eBook ini penulis -semoga Allah merahmatinya- menyebutkan 110 kesalahan yang umum dilakukan oleh kaum muslimin diberbagai negeri, kesalahan-kesalah tersebut sangat variatif mulai yang ringan sampai kesalahan yang berbentuk syirik, semoga kita terhindar dari semuanya,  amin…

Download:

 Download PDF atau Download Word

eBook Natal dan Tahun Baru_Update-2

الْحَمْدُ اللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَـمِيْنْ، وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَيْنَ، أَمَّ بَعْدُ

Pada kesempatan yang mulia ini, kami dapat melakukan update ke-2 eBook tentang Natal dan Tahun Baru, adapun isi dari eBook ini (point yang berwarna biru adalah eBook baru):

A. Fatwa Para Ulama Tentang Natal

1. Fatwa MUI
2. Fatwa Al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuts al-‘llmiyyah wa al-lfta’
3. Fatwa Syaikh bin Baz
4. Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin

B. Mengucapkan Selamat Natal, Perbutan Baik?
C. Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal ?
D. Seorang Mukmin Tidak Ikut Merayakan Hari Raya Orang Kafir
E. Hukum Ikut Merayakan Imlek (Tahun Baru Orang Tioghoa)
F. Larangan Wala’ Kepada Kaum Kafirin
G. Hukum Perayaan Tahun Baru
H. 10 Kerusakan Perayaan Tahun Baru

Kami berharap agar kita semua terhindar dari makar para musuh Allah عزّوجلّ dan kita berdo’a semoga kita diwafatkan Allah ta’ala diatas Islam dan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, amin….

Download:

Download CHM mirror Download CHM  atau Download ZIP

Versi DOC dan PDF memuat eBook poin D dan E

 Download PDF atau Download Word

Fiqih Mengingkari KEMUNGKARAN

Nama eBook: Bid’ah-Bid’ah di Bulan Ramadhan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban agama dan ibadah yang sangat utama. Namun, harus diketahui bahwa pengingkaran memiliki etika dan kaidah yang telah diajarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم, karena beliau adalah seorang yang paling mengerti tentang metode dakwah yang terbaik. Mungkinkah Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada umatnya tata cara buang air besar, lalu melupakan untuk mengajarkan mereka tata cara inkarul munkar?!!.

Metode mengingkari kemungkaran yaitu tidak boleh mengingkari kemungkaran jika malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar, perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ قَالَ بَيْنَمَا نَـحْنُ فِيْ مَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُوْلُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ مَهْ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ. ثُـمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ: إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ. أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ فَأَمَرَ رَجُلًا مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, “Ketika kami sedang di masjid bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم, tiba-tiba datang seorang Arab badui lalu berdiri untuk kencing di masjid. Para sahabat Rosul صلى الله عليه وسلم menghardiknya, tetapi Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Janganlah kalian memutusnya, biarkanlah dia selesai kencing dulu.’ Maka mereka membiarkan orang tersebut kencing hinggaselesai. Setelah itu Rosululloh صلى الله عليه وسلم menasihatinya, ‘Sesungguhnya masjid ini tidak boleh digunakan untuk kotoran dan kencing, masjid adalah tempat untuk dzikir, sholat, dan membaca al-Qur’an.’ Atau sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang sesuai. Setelah itu, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintah seseorang untuk mengambil satu ember air dan menyiramnya.'”

Kencing dalam masjid adalah hal terlarang, namun Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang para sahabat untuk menghardik arab badui tersebut, karena beberapa sebab diantaranya:

  1. Akan membahayakan orang tersebut karena memberhentikan seorang yang tengah kencing adalah berbahaya dan menyakitkan,
  2. Seandainya dibiarkan terlebih dahulu maka dia akan menumpahkan najis pada bagian kecil dari masjid, tetapi kalau saja dia ditegur di tengah-tengah kencing niscaya air kencing akan mengena pada badannya dan pakaiannya serta malah melebar ke bagian masjid lainnya.

Itulah sebagian dari fiqih hadits tersebut, lihat bahasannya lebih detil dalam eBook ini dan temukan pula didalamnya kisah para ulama dalam mengingkari kemungkaran, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin….

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Defenisi dan Cakupan Ibadah

Nama eBook: Makna dan Cakupan Ibadah
Penulis: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Allah عزّوجلّ telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat/51:56)

Allah memberikan ujian dengan perintah ibadah, melaksanakan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah  عزّوجلّ  berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk/67: 2)

Secara Istilah “Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.”

Ibadah dalam agama Islam mencakup ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah:

Ibadah mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya memang merupakan ibadah, berdasarkan nash atau lainnya yang menunjukkan perkataan dan perbuatan tersebut haram dipersembahkan kepada selain Allah  عزّوجلّ.

Ibadah ghairu mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya bukan ibadah, akan tetapi berubah menjadi ibadah dengan niat yang baik.

Demikian sekilas penjelasan tentang ibadah, dalam eBook dijelaskan lebih luas akan makna ibadah dan pembagian ibadah, sebab pentingnya kita mengetahui makna ibadah dan cakupannya, mari kita ilmu dan amalkan isi eBook ini sehingga kita bisa mengisi hidup kita dengan ibadah untuk bisa meraih ridha Allah…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Hukum Perayaan HAUL

Nama eBook: Hukum Perayaan HAUL
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Penulis -semoga Allah menjaganya- diawal eBook berkata:

Di tanah air Indonesia ini, perayaan haul seorang syaikh, wali, sunan, kiai, habib, atau tokoh lainnya bukanlah hal yang asing bagi kebanyakan kita. Di pinggir-pinggir jalan sering dipajang spanduk bertuliskan “Hadirilah acara peringatan haul Syaikh—fulan—yang ke—sekian kalinya.”

Acara haul sudah merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian seseorang. Awalnya, acara ini biasanya diselenggarakan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun di hari kematian si mayit atau yang masyhur dikenal dengan “haul” yang berarti “tahun” dalam bahasa Arab.

Perayaan haul dengan berbagai variasi acaranya cukup memukau banyak kalangan, dihadiri oleh para tokoh agama dan petinggi daerah. Masyarakat pun berjubel-jubel antusias menghadirinya dengan berbagai macam keyakinan dan tujuan hingga tanpa disadari acara ini seakan menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya diasingkan dari masyarakat. Bahkan, lebih jauh lagi, acara tersebut seolah-olah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah atau wajib dikerjakan, dan sebaliknya bid’ah dan salah bila ditinggalkan.

Hal yang sangat mengherankan adalah kurangnya usaha banyak orang untuk mencari kebenaran tentang status hukum perayaan ini ditinjau dari sudut pandang syari’at Islam yang mulia. Oleh karena itu, penting sekali adanya penjelasan secara ilmiah dan komprehensif tentang masalah yang menjadi pro dan kontra ini sehingga tidak menyisakan celah-celah perdebatan dan keraguan pada masyarakat kaum muslimin tentang hakikat perayaan ini. Berikut ini adalah usaha sederhana untuk mengupas masalah ini. Semoga bermanfaat…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download Word atau Download PDF

6 Pedoman Beribadah Kepada Allah

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Seorang hamba wajib menghambakan  dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam  proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabb-nya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang.

Ada enam pedoman dalam beribadah yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

Pertama: Ibadah itu bersifat تَوْقِيْفِيَّة (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya).
Kedua: Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, bersih dari noda-noda kesyirikan.
Ketiga: Hendaknya teladan dalam ibadah dan insan yang menjelaskannya adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Empat: Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.
Kelima: Ibadah harus dibangun di atas mahabbah kepada Allah Azza wa Jalla, dzull (kehinaan), al-khauf (rasa takut), ar-raja (pengharapan) kepada-Nya.
Keenam: Ibadah tidak akan pernah gugur dari seorang mukallaf sejak ia baligh hingga ajal datang menghentikan kehidupan dunianya.

Download:

Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word