eBook Natal dan Tahun Baru_Update-2

الْحَمْدُ اللهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَـمِيْنْ، وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَيْنَ، أَمَّ بَعْدُ

Pada kesempatan yang mulia ini, kami dapat melakukan update ke-2 eBook tentang Natal dan Tahun Baru, adapun isi dari eBook ini (point yang berwarna biru adalah eBook baru):

A. Fatwa Para Ulama Tentang Natal

1. Fatwa MUI
2. Fatwa Al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuts al-‘llmiyyah wa al-lfta’
3. Fatwa Syaikh bin Baz
4. Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin

B. Mengucapkan Selamat Natal, Perbutan Baik?
C. Bolehkah Mengucapkan Selamat Natal ?
D. Seorang Mukmin Tidak Ikut Merayakan Hari Raya Orang Kafir
E. Hukum Ikut Merayakan Imlek (Tahun Baru Orang Tioghoa)
F. Larangan Wala’ Kepada Kaum Kafirin
G. Hukum Perayaan Tahun Baru
H. 10 Kerusakan Perayaan Tahun Baru

Kami berharap agar kita semua terhindar dari makar para musuh Allah عزّوجلّ dan kita berdo’a semoga kita diwafatkan Allah ta’ala diatas Islam dan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, amin….

Download:

Download CHM mirror Download CHM  atau Download ZIP

Versi DOC dan PDF memuat eBook poin D dan E

 Download PDF atau Download Word

Fiqih Mengingkari KEMUNGKARAN

Nama eBook: Bid’ah-Bid’ah di Bulan Ramadhan
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban agama dan ibadah yang sangat utama. Namun, harus diketahui bahwa pengingkaran memiliki etika dan kaidah yang telah diajarkan oleh Rosululloh صلى الله عليه وسلم, karena beliau adalah seorang yang paling mengerti tentang metode dakwah yang terbaik. Mungkinkah Nabi صلى الله عليه وسلم mengajarkan kepada umatnya tata cara buang air besar, lalu melupakan untuk mengajarkan mereka tata cara inkarul munkar?!!.

Metode mengingkari kemungkaran yaitu tidak boleh mengingkari kemungkaran jika malah menimbulkan kerusakan yang lebih besar, perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ قَالَ بَيْنَمَا نَـحْنُ فِيْ مَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُوْلُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْ مَهْ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُزْرِمُوهُ دَعُوهُ فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ. ثُـمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ: إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ. أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ فَأَمَرَ رَجُلًا مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ عَلَيْهِ

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, “Ketika kami sedang di masjid bersama Rosululloh صلى الله عليه وسلم, tiba-tiba datang seorang Arab badui lalu berdiri untuk kencing di masjid. Para sahabat Rosul صلى الله عليه وسلم menghardiknya, tetapi Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Janganlah kalian memutusnya, biarkanlah dia selesai kencing dulu.’ Maka mereka membiarkan orang tersebut kencing hinggaselesai. Setelah itu Rosululloh صلى الله عليه وسلم menasihatinya, ‘Sesungguhnya masjid ini tidak boleh digunakan untuk kotoran dan kencing, masjid adalah tempat untuk dzikir, sholat, dan membaca al-Qur’an.’ Atau sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم yang sesuai. Setelah itu, Nabi صلى الله عليه وسلم memerintah seseorang untuk mengambil satu ember air dan menyiramnya.'”

Kencing dalam masjid adalah hal terlarang, namun Rosululloh صلى الله عليه وسلم melarang para sahabat untuk menghardik arab badui tersebut, karena beberapa sebab diantaranya:

  1. Akan membahayakan orang tersebut karena memberhentikan seorang yang tengah kencing adalah berbahaya dan menyakitkan,
  2. Seandainya dibiarkan terlebih dahulu maka dia akan menumpahkan najis pada bagian kecil dari masjid, tetapi kalau saja dia ditegur di tengah-tengah kencing niscaya air kencing akan mengena pada badannya dan pakaiannya serta malah melebar ke bagian masjid lainnya.

Itulah sebagian dari fiqih hadits tersebut, lihat bahasannya lebih detil dalam eBook ini dan temukan pula didalamnya kisah para ulama dalam mengingkari kemungkaran, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin….

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Defenisi dan Cakupan Ibadah

Nama eBook: Makna dan Cakupan Ibadah
Penulis: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Allah عزّوجلّ telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat/51:56)

Allah memberikan ujian dengan perintah ibadah, melaksanakan perintah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah  عزّوجلّ  berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk/67: 2)

Secara Istilah “Ibadah adalah satu istilah yang menghimpun seluruh apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan dan perbuatan, yang lahir dan yang batin.”

Ibadah dalam agama Islam mencakup ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah:

Ibadah mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya memang merupakan ibadah, berdasarkan nash atau lainnya yang menunjukkan perkataan dan perbuatan tersebut haram dipersembahkan kepada selain Allah  عزّوجلّ.

Ibadah ghairu mahdhah adalah perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan yang asalnya bukan ibadah, akan tetapi berubah menjadi ibadah dengan niat yang baik.

Demikian sekilas penjelasan tentang ibadah, dalam eBook dijelaskan lebih luas akan makna ibadah dan pembagian ibadah, sebab pentingnya kita mengetahui makna ibadah dan cakupannya, mari kita ilmu dan amalkan isi eBook ini sehingga kita bisa mengisi hidup kita dengan ibadah untuk bisa meraih ridha Allah…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Hukum Perayaan HAUL

Nama eBook: Hukum Perayaan HAUL
Penulis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi حفظه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Penulis -semoga Allah menjaganya- diawal eBook berkata:

Di tanah air Indonesia ini, perayaan haul seorang syaikh, wali, sunan, kiai, habib, atau tokoh lainnya bukanlah hal yang asing bagi kebanyakan kita. Di pinggir-pinggir jalan sering dipajang spanduk bertuliskan “Hadirilah acara peringatan haul Syaikh—fulan—yang ke—sekian kalinya.”

Acara haul sudah merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian seseorang. Awalnya, acara ini biasanya diselenggarakan setelah proses penguburan, kemudian berlanjut setiap hari sampai hari ke-7. Lalu diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun di hari kematian si mayit atau yang masyhur dikenal dengan “haul” yang berarti “tahun” dalam bahasa Arab.

Perayaan haul dengan berbagai variasi acaranya cukup memukau banyak kalangan, dihadiri oleh para tokoh agama dan petinggi daerah. Masyarakat pun berjubel-jubel antusias menghadirinya dengan berbagai macam keyakinan dan tujuan hingga tanpa disadari acara ini seakan menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya diasingkan dari masyarakat. Bahkan, lebih jauh lagi, acara tersebut seolah-olah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah atau wajib dikerjakan, dan sebaliknya bid’ah dan salah bila ditinggalkan.

Hal yang sangat mengherankan adalah kurangnya usaha banyak orang untuk mencari kebenaran tentang status hukum perayaan ini ditinjau dari sudut pandang syari’at Islam yang mulia. Oleh karena itu, penting sekali adanya penjelasan secara ilmiah dan komprehensif tentang masalah yang menjadi pro dan kontra ini sehingga tidak menyisakan celah-celah perdebatan dan keraguan pada masyarakat kaum muslimin tentang hakikat perayaan ini. Berikut ini adalah usaha sederhana untuk mengupas masalah ini. Semoga bermanfaat…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download Word atau Download PDF

6 Pedoman Beribadah Kepada Allah

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Seorang hamba wajib menghambakan  dirinya kepada Allah Ta’ala. Dalam  proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabb-nya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang.

Ada enam pedoman dalam beribadah yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

Pertama: Ibadah itu bersifat تَوْقِيْفِيَّة (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya).
Kedua: Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, bersih dari noda-noda kesyirikan.
Ketiga: Hendaknya teladan dalam ibadah dan insan yang menjelaskannya adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Empat: Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.
Kelima: Ibadah harus dibangun di atas mahabbah kepada Allah Azza wa Jalla, dzull (kehinaan), al-khauf (rasa takut), ar-raja (pengharapan) kepada-Nya.
Keenam: Ibadah tidak akan pernah gugur dari seorang mukallaf sejak ia baligh hingga ajal datang menghentikan kehidupan dunianya.

Download:

Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

 

Imam Syafi’i dan Sufi

Nama eBook: Aliran Sufi Diingkari Imam Syafi’i Rahimahullah
Penyusun: Ustadz Abu Minhal, Lc

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:

Negeri kita Indonesia dan umumnya Asia Tenggara, umat Islam umumnya menisbatkan diri kepada madzhab Syafi’i, namun kebanyaknnya adalah sekedar pengakuan saja. Sebagian yang lain membuat pernyataan “Aku bermadzhab Syâfi’i dalam fiqih, asy’ari dalam aqidah, sufi dalam akhlak”, padahal imam Syafi’i -semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di surga yang tinggi- mengingkari dua penggalan terakhir , karena madzhab beliau adalah Ahlus Sunnah  dalam Aqidah, Fikih dan Akhlak.

Dilam muka ini kami kutipkan pengingkaran beliau terhadap aliran sufi yang dikutip oleh para ulama bermadzhab Syafi’i yang menulis biografi beliau, diantaranya:

أَسَاسُ التَّصَوَّفِ الْكَسَلُ

“Asas tasawuf adalah kemalasan” [al-Hilyah karya Abu Nu’aim al-Ashbahâni 9/136-137].

Beliau juga mencela mereka dengan berkata:

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيُّ صُوْفِياًّ حَـتَّى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُولٌ أَكُوْلٌ شَؤُوْمٌ كثَيْرُ الْفُضُولِ

“Seseorang tidak akan menjadi Sufi (tulen) kecuali setelah empat perkara ada padanya: sangat malas, banyak makan, sangat pesimis, dan banyak melakukan hal yang tidak perlu”. (Manâqibu asy-Syâfi’i karya al-Baihaqi 2/207).

Imam al-Baihaqi asy-Syafi’i rahimahullah dengan sanadnya meriwayatkan dari Yûnus bin ‘Abdil A’lâ rahimahullah , ia berkata, “Aku mendengar (Imam) Syâfi’i rahimahullah menyatakan:

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَـصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتَـهُ أَحْمَقَ

“Kalau ada orang menjadi Sufi di pagi hari, maka tidaklah datang waktu Zhuhur kecuali orang tersebut akan engkau jumpai menjadi manusia yang dungu”. [Manâqib Syâfi’i karya Imam al-Baihaqi 2/207]

Demikianlah diantara perkataan beliau rahimahullah, semoga kita umat Islam tidak terperdaya dengan masuknya berbagai hal kedalam tubuh umat Islam -padahal ia bukan dari Islam-, kepada Allah-lah kita berlindung dan kepadanyalah kita berserah diri…

Download:
 Download PDF atau Download Word

Kembali Ke Agama, Kalian akan Berjaya!

Kembali Ke Agama, Kalian akan Berjaya!
Tajuk Majalah As-Sunnah, Ed.04 Thn. XIX_1436H/2015M

Luka lama belum sembuh, luka baru menganga. Tidak berlebihan rasanya, jika untaian kata ini dipergunakan untuk menggambarkan perasaan hati sebagian Kaum Muslimin yang terus tersakiti. Mereka terluka hatinya karena kaum Muslimin Palestina tak henti-hentinya dizhalimi oleh kaum kuffar zionis. Belum sembuh luka itu, tersebar berita lain yang tidak kalah menyakitkan ketika kaum Muslimin di Suriah dibantai. Fakta terbaru yang juga menyayat hati yaitu fakta kaum Muslimin Rohingya yang mendapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi dari berbagai kalangan bahkan Negara. Ada apa dengan kaum Muslimin? Umat yang dahulu jaya dan disegani, sekarang menjadi umat yang dihinakan dan dibawah kendali orang-orang kafir.

Jauh hari, sebelum kejadian-kejadian itu terlihat nyata, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam telah bersabda:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Hampir tiba waktu, kaum-kaum itu akan saling menyeru di atas kalian sebagaimana orang-orang yang makan saling menyeru kehidangan mereka” Ada yang bertanya, Apakah karenajumlah kami sedikit ketika itu?’ Rasulullah ig menjawab, ‘Bahkan jumlah kalian banyak, akan tetapi kalian ibarat buih air bah [laut]. Allah sungguh telah mencabut rasa takut dari dada-dada musuh kalian terhadap kalian dan Allah  akan mencampakkan al-wahn dalam hati-hati kalian.” Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah! Apakah al-wahn itu?’ Beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci kematian.’ (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani)

Saat menjelaskan hadits ini, penyusun kitab Aunul Ma’bud mengatakan bahwa orang-orang kafir dan sesat itu saling mengajak untuk memerangi kaum Muslimin, mencabik-cabik persatuan kaum Muslimin serta merampas harta benda mereka.

Baca pos ini lebih lanjut

Hukum Pelaku Besar Menurut Imam Syafi’i

Nama eBook: Hukum Pelaku Besar Menurut Imam asy-Syafi’i rahimahullah
Penyusun: Dr. Muhammad bin A.W. Al-‘Aqil حفظه الله

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Islam adalah umat pertengahan, demikian pula Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap pertengahan dari orang-orang ahli bid’ah wal hawa, diantaranya adalah  terhadap para pelaku kemaksiatan dari ahli kiblat ini, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempunyai sikap pertengahan antara sikap Khawarij dan Mu’tazilah yang berlebihan, dan sikap kelompok Murjiah yang sangat longgar.

Orang-orang Khawarij mengatakan bahwa orang Islam yang berbuat al-kabiirah (dosa besar) menjadi kafir jika tidak bertaubat dan ia akan kekal di Neraka. Hanya saja, mereka berselisih pendapat tentang jenis kekufuran orang ini. Mu’tazilah mengatakan si pelaku dosa besar akan kekal di Neraka, namun orang seperti ini di dunia berada di antara dua posisi, ia bukan kafir dan bukan Mukmin (manzilah bainal manzilatain).

Sementara itu, Murjiah mempunyai pandangan bahwa orang yang telah mengucapkan Laa ilaaha illallaah adalah Mukmin yang sempurna imannya, dan setiap Mukmin pasti masuk Surga. Sebagian mereka telah melampaui batas dengan mengatakan bahwa dosa tidak mempengaruhi iman, sebagaimana ketaatan itu tidak bermanfa’at jika disertai kekufuran.

Adapun Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa dosa besar yang dilakukan seorang Mukmin tidak menjadikannya keluar dari iman selama tidak menganggap dosa yang dikerjakannya itu boleh atau halal. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Mukmin yang berbuat suatu dosa besar, jika ia meninggal sebelum bertaubat, maka ia tidak kekal dalam Neraka, sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits. Bahkan, urusannya diserahkan kepada Allah, apakah Allah Azza wa Jalla akan mengampuni atau menyiksanya sesuai dosa yang dikerjakannya. Kemudian, ia dimasukkan ke Surga dengan rahmat-Nya.

Baca pos ini lebih lanjut

Hukum Mengeraskan Bacaan Shalawat

Nama eBook: Hukum Mengeraskan Bacaan Shalawat
Penulis: Syaikh Muhammad bin Jami Zainu رحمه الله

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد

Telah disebutkan pada eBook sebelumnya yakni ‘Cinta Sejati Untuk Sang Nabi’ tulisan as-Syaikh Hasyim Asy’ari yang mana salah satu isinya ialah kewajiban taat dan mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم.

Sayangnya dizaman sekarang banyak orang yang malah menyelisihi Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya dalam bebagai hal termasuk ibadah dan mereka menganggapnya suatu kebaikan; diantaranya adalah mengeraskan dan menambah bacaan sebelum dan sesudah Adzan, salah satunyanya adalah mengeraskan bacaan Shalawat.

Membaca shalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم setelah adzan adalah sunnah namun demi mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم seharusnya bacaanya tidak dikeraskan.

Ibnu Hajar asy-Syafi’i رحمه الله berkata dalam Fatawaa al-Kubraa, “Para Syaikh kami dan selain mereka dimintai fatwa tentang bershalawat dan mengucapkan salam untuk Nabi صلى الله عليه وسلم setelah adzan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para muadzin [dengan mengeraskan suara]. Maka mereka mengeluarkan fatwa bahwa shalawat itu adalah Sunnah, sedangkan tata caranya bid’ah.

Demi mengikuti nabi kita yang mulia hendaklah kita mengikuti beliau dan menjadikan petunjuk beliau diatas hawa nafsu dan tradisi yang menyimpang.

Untuk lebih memperdalam masalah mengeraskan bacaan dzikir silahkan lihat eBook kami Imam Syafi’i dan Dzikir Berjama’ah.

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDFatau Download Word

ISLAM dan SOSIALISME

Nama eBook: ISLAM dan SOSIALISME
Penulis: Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah حفظه الله

Penulis -semoga Allah menjaganya- diawal eBook berkata:

Sesungguhnya Islam adalah agama Allah عزّوجلّ yang sempurna. Islam berlaku untuk segala zaman dan tempat hingga hari Kiamat dan ia adalah agama yang lengkap meliputi semua segi kehidupan manusia.

Islam memiliki tatanan ekonomi yang istimewa dan menyelisihi tatanan Kapitalisme dan Sosialisme dengan segala macamnya, dan menyelisihi Komunisme. Apa yang diklaim sebagai kebaikan di dalam paham-paham di atas maka Islam telah mendahuluinya dengan berabad-abad sebelumnya, dan apa yang merupakan kejelekan di dalam paham-paham ini maka sesungguhnya Islam telah menjauh darinya dan memperingatkan manusia darinya.

Islam menyelisihi Kapitalisme dengan menetapkan adanya zakat yang merupakan santunan atas kaum miskin, melarang riba dan mu’amalah-mu’amalah yang haram. Demikian juga, Islam menyelisihi Sosialisme yang dibangun di atas kezaliman terhadap para hamba dan menimbulkan permusuhan di antara mereka, munculnya kemalasan di barisan mereka, dan memunahkan kemampuan-kemampuan mereka. Sosialisme dilandaskan atas pembatasan kepemilikan-kepemilikan pribadi, dan menghapus kelas-kelas manusia; agar manusia sama di dalam kemiskinan, penghambaan, dan kehinaan di bawah tatanan yang rusak ini.

Akan tetapi, yang sangat disesalkan, sebagian orang yang disebut sebagai para “pemikir Islam” justru menjadi propagandis dan penyeru Sosialisme. Mereka mengklaim bahwa Sosialisme adalah bagian dari Islam dengan menyebut adanya “Sosialisme Islam”. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sudah mengajarkan Sosialisme sejak seribu dua ratus tahun sebelum Karl Marx!.

Mengingat gencarnya seruan kepada “Sosialisme Islam” ini di dalam berbagai media, maka kami hendak memaparkan bantahan Islam atas Sosialisme…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word