Kaedah: Perantara Mempunyai Hukum Tujuannya

Nama eBook: Kaedah: Perantara Mempunyai Hukum Tujuannya
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada pertemuan yang mulia ini akan kita sampaikan sebuah kaedah yang masyhur yakni:

اَلْوَسَائِلُ لَـهَا أَحْكَامُ الْـمَقَاصِدِ

Perantara Mempunyai Hukum Tujuannya.

Terpecah dari kaedah ini beberapa kaedah lainnya yaitu:

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Sebuah perbuatan wajib yang tidak mungkin dikerjakan kecuali dengan mengerjakan sesuatu lainnya, maka sesuatu lainnya tersebut pun dihukumi wajib.

مَا لَا يَتِمُّ الْـحَرَامُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ حَرَامٌ

Baca pos ini lebih lanjut

Sebuah Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad Lain

Nama eBook: Sebuah Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad Lain
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

الحمد الله، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Alhamdulillah, pada kesempatan yang mulia ini kembali kita posting sebuah kaedah fikih yakni:

اَلْاِجْتِهَادُ لاَ يُنْقَضُ بِالْاِجْتِهَادِ

Sebuah Ijtihad Tidak Bisa Dibatalkan Dengan Ijtihad Lain

Ijtihad adalah mengerahkan usaha dan kemampuan untuk mengeluarkan hukum dari dalilnya (Al Qur’an dan As Sunnah).

Makna kaedah ini ialah apabila ada seorang mujtahid yang berijtihad dalam sebuah masalah ijtihadiyyah lalu dia sudah mengamalkan ijtihadnya tersebut, kemudian setelah itu nampaklah bagi dia kekuatan pendapat lainnya kemudian dia memilih pendapat tersebut, maka ijtihadnya yang kedua tidak bisa membatalkan ijtihadnya yang pertama.

Akan tetapi masalah ini hanya berlaku bagi sebuah masalah ijtihadiyyah, yaitu sebuah masalah yang tidak ada nash yang shorih dan shohih padanya atau sebuah masalah yang dalil-dalil-nya kelihatannya saling bertentangan, sehingga para ulama’ banyak berselisih pendapat. Adapun kalau sebuah masalah itu nashnya sangat jelas dan gamblang tidak ada kemungkinan pemahaman lainya, maka bukan masuk dalam kaedah ini.

Dari sini maka masalah ijtihadiyyah ini bisa dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Masalah yang tidak ada dalil yang jelas (dhonniyyah).
  2. Masalah yang telah diputuskan oleh hakim sebelumnya dan dalam koridor ijtihadiyyah.
  3. Masalah taharri (usaha mencari yang paling benar dari berbagai kemungkinan yang juga mungkin benar)

Simak kaedah ini dengan baik,  dan janganlah kita tertipu oleh banyak slogan ini masih dalam ranah ijtihad yang didengungkan para musuh islam baik memakai baju islam maupun tidak, semoga kita terhindar dari fitnah akhir zaman ini, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Yang Dibolehkan Meniadakan Mengganti

Nama eBook: Penggabungan HUKUMAN dan KAFFAROH
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

الحمد الله، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Alhamdulillah, pada kesempatan yang mulia ini kembali kita sampaikan sebuah kaedah fikih yakni:

الـجَوَازُ الشَّرْعِيْ يُنَافِيْ الضَّمَانَ

Sesuatu yang Diperbolehkan Oleh Syar’i
Meniadakan Kewajiban Mengganti

الـجَوَازُ الشَّرْعِيْ adalah sesuatu yang diperbolehkan oleh Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya untuk dikerjakan.

الضَّمَانُ adalah kewajiban mengganti bagi orang yang merusakkan barang milik orang lain.

Dengan demikian maka makna kaedah adalah:

“Apabila seseorang melakukan sesuatu yang diizinkan oleh syariat Islam, lalu dengan perbuatannya itu menyebabkan adanya sesuatu milik orang lain yang rusak atau hilang, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mengganti sesuatu yang rusak tersebut. Karena apa yang telah di izinkan oleh Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya berarti memang boleh untuk dikerjakan, dan sesuatu yang boleh untuk dikerjakan maka dia tidak menanggung beban kalau ada kerugian di pihak lain.”

Simak kaedah ini dan simak contoh penerapan kaedah-nya, semoga bermanfaat…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Penggabungan HUKUMAN dan KAFFAROH

Nama eBook: Penggabungan HUKUMAN dan KAFFAROH
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

الحمد الله، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

تَدَاخُلُ الْـحُدُوْدِ وَالْكَفَّارَاتِ

Penggabungan Hukuman dan Kaffaroh

Perbuatan yang dilarang dalam syari’at Islam yang mulia ada dua macam:

  1. Larangan yang tidak ada hukuman (had) dan kaffarohnya di dunia
  2. Larangan yang ada hukuman (had) dan kaffarohnya di dunia

Contoh dari jenis pertama adalah syirik, riba dan durhaka kepada orang tua; sedangkan contoh jenis kedua seperti berzina, mencuri dan jima’ disiang hari ramadhan. Besarnya dosa tidak tergantung dari ada atau tidak hukuman had dan kaffarohnya di dunia.

Sedangkan kaidah diatas adalah untuk menjelaskan salah satu dari keadaan pada larangan jenis kedua. Pada larangan jenis kedua boleh jadi akan terjadi beberapa keadaan, diantaranya:

  1. Melakukan pelanggaran dengan jenis yang berbeda, maka yang bersangkutan akan dikenakan hukuman dan atau kaffaroh dari kedua pelanggaran tersebut; contoh: seorang yang jima’ siang hari puasa Romadhon kemudian mencuri. Maka tidak diragukan lagi bahwa hukumannya dua hal yakni kaffaroh jima’ dan dipotong tangan karena mencuri.
  2. Melakukan pelanggaran yang sejenis, seperti berzina kemudian berzina lagi atau mencuri kemudian mencuri lagi, hal ini tidak lepas pada dua keadaan:
    • Setelah melakukan pelanggaran pertama kemudian ia dikenakan hukuman atau kaffaroh, lalu ia melanggar pelanggaran yang sama maka ia dikenakan hukuman atau kaffaroh lagi; seperti orang yang mencuri kemudian dipotong tangan kanannya, dikemudian hari ia mencuri lagi maka dipotong kaki kirinya dan seterusnya…
    • Setelah melakukan pelanggaran pertama belum mendapatkan hukuman atau belum membayar kaffaroh, lalu dia melakukan pelanggaran lagi yang sejenis dengan pelanggaran pertama, maka inilah letak permasalahan kaidah ini….

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Pengakuan adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas

Nama eBook: Pengakuan adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

اَلْإِقْرَارُ حُجَّةٌ قَاصِرَةٌ

Pengakuan Adalah Sebuah Hujjah yang Terbatas

اَلْإِقْرَارُ adalah pengakuan atas dirinya sendiri bahwa dia punya tanggungan pada orang lain, adapun kalau pengakuan itu untuk orang lain maka namanya: tuduhan.

حُجَّةٌ: dalil, maksudnyasebuah pengakuan bisa dijadikan sebagai sebuah hujjah.

Adapun arti قَاصِرَةٌ adalah: terbatas, dalam artian bahwa sebuah pengakuan itu hanya merupakan hujjah bagi yang mengaku saja dan tidak berlaku pada orang lain.

Dari sini maka makna kaedah adalah:

Sebuah pengakuan itu sebuah hujjah yang hanya berlaku bagi yang mengaku saja dan bukan untuk orang lain.

Adapun yang bisa berlaku untuk orang lain adalah bayyinah atau bukti.

Contoh penerapan kaedah: Kalau si A mengatakan: “Saya telah berzina”, maka pengakuannya ini diterima dan bisa ditegakan hujjah atas penegakan hukum rajam atau cambuk oleh sang hakim, namun kalau dia mengatakan si C telah berzina, maka dia butuh mendatangkan empat saksi, karena sekarang ucapannya itu menjadi sebuah tuduhan.

Contoh lain Kalau si A berkata: “si B pernah menghutangi saya jugapernah menghutangi si C, masing-masing satu juta rupiah”,maka ini hanya berlaku untuk dirinya sendiri dan bukanpada si C kecuali kalau bisa mendatangkan saksi.

Demikianlah sedikit gambaran dari kaedah fiqih ini, silahkan baca eBook-nya dan semoga kita semakin mencintai syariat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Jual Beli Berdasarkan Suka Sama Suka

Nama eBook: Jual Beli Itu Berdasarkan Atas Rasa Suka Sama Suka
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

Alhamdulillah, kita memuji Allah Subhana wa Ta’ala dan bersyukur kepadan-Nya, kemudian shalawat dan salam bagi nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarganya, sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kemudian, amma ba’du:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّـمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata: Rosululloh bersabda “Sesungguhnya jual beli itu atas dasar suka sama suka.”

Hadits ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/737 no: 2185 dari jalan Abu Said Al Khudri. Berkata Al Bushiri dalam Az Zawaid: Sanadnya shohih dan para perowinya terpercaya. Juga dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Ibnu Majah: 1792 dan Irwa: 1283; dan dari hadits ini terambillah sebuah kaedah yakni:

إِنَّـمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Jual Beli Itu Berdasarkan Atas Rasa Suka Sama Suka

Kaedah ini adalah sebuah kaedah umum yang menunjukkan bahwa semua bentuk transaksi yang dilaksanakan berdasarkan rasa suka sama suka maka itu diperbolehkan selagi tidak terdapat larangan dari Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya, namun jika bertentangan dengan larangan dari Alloh عزّوجلّ dan Rosul-Nya meskipun dilaksanakan atas dasar suka sama suka maka itu jelas terlarang.

Silahkan baca eBook-nya yang didalamnya akan dijelaskan makna kaedah ini lebih lanjut dan juga pengecualian-pengecualian dari kaedah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Yang Ikut Itu Hukumnya Sekedar Mengikuti

Nama eBook: Yang Ikut Itu Hukumnya Sekedar Mengikuti
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

التَابِعُ تَابِعٌ

Yang Ikut Itu Hukumnya Sekedar Mengikuti.

Makna dari kaedah ini adalah sesuatu yang keberadaannya mengikuti sesuatu yang lain, maka hukumnya pun tidak bisa berdiri sendiri akan tetapi harus mengikuti hukum pokok yang dikutinya.

Contoh dalam penerapan adalah haramnya menjual binatang yang masih dalam perut induknya, namun halal menjual binatang yang bunting, karena dalam bentuk yang kedua ini yang di jual adalah induknya, adapun janinnya hanya sekedar rnengikuti, namun dalam keadaan yang pertama yang dijual adalah janinnya secara langsung, maka itu haram karena adanya jahalah (ketidakjelasan barang yang dijual).

Demikianlah sedikit gambaran dari kaedah fiqih ini, silahkan baca eBook-nya dan didalamnya juga akan kita temui 6 kaidah yang merupakan cabang kaidah ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Kaidah Fikih: Bukti, Saksi dan Sumpah

Nama eBook: Kaidah Fikih: Bukti, Saksi dan Sumpah
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

Alhamdulillah segala puji bagi Allah ta’ala Rabb semesta alam, shalawat dan salam untuk Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari yang dijanjikan, Amma ba’du:

Pada kesempatan yang mulia ini kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

البَيِّنَةُ الْتمُدَّعِيْ وَالْيَمِيْنُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Bagi Yang Menuntut Wajib Membawa Bukti,
Sedangkan Yang Mengingkari Cukup Bersumpah
.

Kaidah ini terambil dari nash Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas رضي الله عنهما:

عَنْ عَبْدِ بْنُ عَبَّاسٍ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ ، وَلَكِنْ الْبَيِّنَةُ عَلَى الْمُدَّعِي ، وَالْيَمِينُ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ

Dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Seandainya orang-orang itu diberi atas pengakuan mereka, niscaya akan ada orang-orang yang mengaku harta dan darah orang lain. Namun bagi yang mengaku (menuntut) wajib membawa bukti sedangkan yang mengingkari cukup bersumpah.” (HR. Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 10/252 no. 20990 dengan sanad hasan)

Hadits ini adalah sebuah kaidah yang  sangat besar dalam syari’at Islam, karena merupakan pokok dasar semua permasalahan dalam menetapkan benar dan tidaknya sebuah persoalan hukum oleh seorang hakim. (Lihat Syarah Muslim oleh Imam Nawawi, 12/3).

Simak lebih lanjut pembahasan kaidah ini yang didalam eBook akan dijelaskan asal kaidah, makna kaidah, kedudukan kaidah, contoh penerapan kaidah dan hubungannya dengan sumpah palsu, semoga bermanfaat…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Perubahan Kepemilikan Seperti Perubahan Benda

Nama eBook: Perubahan Kepemilikan Seperti Perubahan Benda
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Kembali pada postingan kali ini kita sampaikan sebuah kaedah fikih yakni:

تَبَدُّلُ سَبَبِ الْـمِلْكِ كَتَبَدُّلِ الْعَيْنِ

Perubahan sebab kepemilikan seperti perubahan sebuah benda.

Secara umum makna kaedah ini, bahwa kalau berubah sebab kepemilikan seseorang terhadap sebuah benda maka secara hukum syar’i berubah pulalah benda tersebut, meskipun secara hakekatnya benda tersebut tidak mengalami perubahan sama sekali.

Sebab kepemilikan adalah sebuah sebab yang menjadikan seseorang memiliki suatu barang, misalnya jualbeli, menerima shodaqoh, zakat, diberi hibah atau sebab lainnya.

Untuk memahaminya kita utarakan sebuah contoh: Orang kaya dan ahlul bait Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak halal menerima sedekah, namun bila seorang fakir menerima harta sedekah atau zakat kemudian ia hadiahkan kepada orang kaya dan ahlu bait maka menjadi halal bagi mereka, sebab harta itu sampai kepada mereka adalah sebagai hadiah.

Temukan dalil dan penjelasan lebih lanjut dari kaedah tersebut dalam eBook ini dan semoga kita diberikan-Nya pemahaman, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Kaedah Syari’at Tentang Mengundi

Nama eBook: Kaedah Syari’at Tentang Mengundi
Penulis: Ustadz Ahmad Sabiq Abu Yusuf حفظه الله

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد:

Pada kesempatan yang mulia ini akan kita sampaikan sebauah kaedah yakni:

تُشْرَعُ الْقُرْعَةُ إِذَا جُهِلَ الْمُسْتَحِقُّ وَتَعَذَّرَتِ الْقِسْمَةُ

Disyariatkan Mengundi Jika Tidak Ketahuan Yang Berhak Serta Tidak Bisa Dibagi.

Makna dari kaedah ini adalah apabila ada sebuah harta atau sebuah hak, lalu tidak di ketahui siapa yang memiliki harta tersebut maupun siapa yang paling berhak mendapatkan hak tersebut sedangkan harta maupun hak tersebut tidak bisa dibagi, maka diberikan pada salah satu dari mereka dengan menggunakan undian. Yang keluar undiannya maka dialah orang yang berhak mendapatkannya.

Contoh penerapan kaedah dalam masalah harta: Kalau ada seseorang yang menemukan barang luqothoh, lalu dia umumkan. Kemudian datanglah dua orang, masing-masing (dari keduanya mengaku bahwa dialah pemilik barang tersebut, dan keduanya menyebutkan ciri-ciri barang tersebut dengan tepat serta tidak ada dalil yang menguatkan salah satu dari keduanya, dan barang tersebut tidak mungkin di bagi, maka untuk menentukan yang paling berhak antara keduanya digunakan sistem undian. Yang mendcipatkan undian itulah yang berhak terhadap barang luqothoh tersebut.

Demikianlah sedikit gambaran dari kaedah fiqih ini, silahkan baca eBook-nya dan semoga kita selalu dalam petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, amin…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word