Sifat Wudhu’ Nabi Bergambar

Nama eBook: Sifat Wudhu’ Nabi صلى الله عليه وسلم
Penulis: Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin  رحمه الله

Pengantar:

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، والصلاة والسلام على إمام المرسلين، نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Bersyukur kami kepada Allah Rabb yang Maha Pengasih, dikesempatan ini atas izin-Nya kami ketengahkan kepada kita semua update eBook Sifat Wudhu’ Nabi صلى الله عليه وسلم karya ulam kita Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrohman al-Jibrin رحمه الله.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:

لَا تُقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang di antara kalian jika dia berhadats sehingga dia berwudhu’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)”

Rasulullah صلى الله عليه وسلم  juga bersabda:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci ” (HR. Muslim)

Demikianlah pentingnya wudhu’, bila wudhu’ tidak sempurna maka akan membawa efek yang tak baik terhadap sholat kita, karenanya mari kita pelajari dan amalkan eBook yang ringkas lagi bergambar ini…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Iklan

Pengertian, Macam dan Cara Thaharah

Nama eBook: Pengertian, Macam dan Cara Thaharah
Penulis: Syaikh Sa’id bin ‘Ali Wahf al-Qahthani

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Pembahasan tentang Thaharah biasanya diletakkan para ulama diawal kitab-kitab yang membahas masalah Fikih, karena banyak ibadah yang dipersyaratkan sebelumnya thaharah.

Menurut bahasa (etimologis), thaharah berarti pembersihan dari segala kotoran yang tampak maupun tidak tampak.

Sedangkan menurut pengertian syari’at (terminologis), thaharah berarti tindakan menghilangkan hadats dengan air atau debu yang bisa menyucikan. Selain itu juga berarti upaya melenyapkan najis dan kotoran. Dengan demikian, thaharah berarti menghilangkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi penghalang bagi pelaksanaan shalat dan ibadah yang semisalnya.

Thaharah itu terdiri dari dua macam:

Macam pertama: Thaharah batin spiritual, yaitu thaharah dari kemusyrikan dan kemaksiatan. Thaharah seperti itu bisa dilakukan dengan cara bertauhid dan beramal shalih. Macam thaharah ini lebih penting dari pada thaharah fisik babkan thaharah badan tidak mungkin bisa terwujud jika masih terdapat najis kemusyrikan.

Macam kedua: Thaharah fisik, yaitu bersuci dari berbagai hadats dan najis. Dan yang ini merupakan sebagian kedua dari iman.

Thaharah dilakukan dengan dua cara:

Pertama: Thaharah dengan menggunakan air. Dan inilah yang pokok.

Kedua: Thaharah dengan menggunakan debu yang suci. Thaharah ini merupakan ganti dari thaharah dengan air jika tidak memungkinkan bersuci dengan menggunakan air pada bagian-bagian yang harus disucikan, atau karena ketiadaan air, atau karena takut bahaya yang diakibatkan oleh penggunaan air, sehingga dapat digantikan oleh debu yang suci.

Demikian ringkasan isi eBook ini, silahkan download dan selamat membaca…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Hukum Air Musta’mal

Nama eBook: Bolehkah AIR MUSTA’MAL Digunakan Untuk Bersuci?
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Amma ba’du:

Dibanyak daerah banyak kaum muslimin yang meyakini bahwa air bekas wudhu’ tidak lagi air suci lagi mensucikan, namun dalil-dalil yang menyebutkan air bekas wudhu’ itu suci lagi mensucikan (muthohhir) lebih jelas lagi banyak, diantaranya:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالْهَاجِرَةِ ، فَأُتِىَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar bersama kami di al Hajiroh, lalu beliau didatangkan air wudhu untuk berwudhu. Kemudian para sahabat mengambil bekas air wudhu beliau. Mereka pun menggunakannya untuk mengusap.” (HR. Bukhari)

 Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy-Syafi’i mengatakan, “Hadits ini bisa dipahami bahwa air bekas wudhu tadi adalah air yang mengalir dari anggota wudhu Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ini adalah dalil yang sangat-sangat jelas bahwa air musta’mal adalah air yang suci.”.

‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, mengatakan:

كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَمِيعًا

“Dulu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam laki-laki dan perempuan, mereka semua pernah menggunakan bekas wudhu mereka satu sama lain.” (HR. Bukhari)

Demikian diantara dalil yang disampaikan penulis -semoga Allah menjagnya-, simak lebih lanjut dalil-dalil yang disampaikan penulis dalam eBook berikut…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Hukum-Hukum Seputar Nifas

Nama eBook: Hukum-Hukum Seputar Nifas
Penulis: Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله

Alhamdulillah, kita memuji Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dengan selalu bersyukur kepada-Nya, kemudian shalawat dan salam untuk nabi dan teladan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu pula untuk keluarga, sahabat dan yang mengikutinya hingga akhir zaman, amma ba’du:

Pada eBook kali ini, akan kita kupas secara singkat fiqih seputar nifas dan hal-hal yang berhubungan dengannya, karena banyak kesalah-pahaman beredar dimasyarakat berkenaan darah nifas.

Nifas secara bahasa makna-nya adalah melahirkan. Secara terminologi syari’at nifas adalah darah yang keluar dari rahim karena melahirkan.

Menurut pendapat yang lebih kuat, tidak ada batasan minimal untuk nifas. Sementara itu, batasan maksimal nifas adalah 40 hari. Jika seorang wanita yang nifas telah suci sebelum 40 hari maka dia dihukumi sebagai wanita yang suci, sehingga wajiblah dia segera mandi dan mengerjakan kewajiban-kewajiban ibadah seperti biasanya. Adapun bila darah terus mengalir setelah lewat 40 hari, maka darah yang keluar lebih dari 40 hari disebut darah penyakit.

Hukum-hukum yang berkaitan dengan nifas pada dasarnya sama dengan hukum-hukum haid. Karena darah nifas adalah darah haid yang tertahan keluarnya selama waktu kehamilan; ada beberapa perbedaan darah haid dan nifas yang selanjutnya akan dibahas dalam eBook ini, juga berhubungan dengan darah yang keluar setelah keguguran, melahirkan dengan operasi dan bahasan lainnya yang sangat penting diketahui terutama bagi para kaum wanita, selamat menyimak….

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Hal-Hal Yang Karenanya Disyari’atkan Wudhu’

Nama eBook: Hal-Hal Yang Karenanya Disyari’atkan Wudhu’
Penulis: Syaikh Sa’id bin ‘Ali Wahf al-Qahthani

Pengantar:

الحمد الله وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Berwudhu’ sebagai bagian dari bersuci sangatlah penting diilmui sebagai seorang muslim, karena tanpa wudhu’ ibadah-ibadah yang agung diantaranya shalat  tidak akan diterima, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تُقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak akan menerima shalat salah seorang di antara kalian jika dia berhadats sehingga dia berwudhu’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam eBook ini yang kami kutip sebagian pasal wudhu’ dari kitab besar Shalatul Mu’min karya syaikh Sa’id bin ‘Ali Wahf al-Qahthani, yakni A. Hal-hal yang Mewajibkan Wudhu’ dan H. Beberapa Hal Yang Karenanya Disunnahkan Untuk Berwudhu’.

Hal-hal yang Mewajibkan Wudhu’:

  1. Shalat
  2. Thawaf di Baitullah
  3. Menyentuh Mushaf

Beberapa Hal Yang Karenanya Disunnahkan Untuk Berwudhu’:

  1. Pada saat akan berdzikir dan berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla
  2. Wudhu’ pada saat akan tidur
  3. Wudhu’ setiap kali berhadats
  4. Wudhu’ setiap kali shalat
  5. Wudhu’ setelah mengusung mayit
  6. Wudhu’ setelah muntah
  7. Wudhu’ karena memakan makanan yang tersentuh api
  8. Wudhu’ bagi orang yang junub jika hendak makan
  9. Wudhu’ ketika akan mengulangi hubungan badan
  10. Wudhu’ bagi orang yang junub jika dia tidur sebelum mandi

Temukan dalil dan penjelasannya dalam eBook ini…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atauDownload PDF atau Download Word

Risalah Seputar Mandi

Nama eBook: Risalah Seputar Mandi
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله

Segala puji bagi Allah, pujian yang terbaik untuk-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du:

Telah kami posting sebelumnya berbagai hal seputar mandi, mulai hal-hal yang mewajibkan mandi sunat, tatacara mandi, seputar mandi Jum’at, maka pada posting kali ini kita tambahkan seputar mandi-mandi yang disunnahkan diantaranya:

  1. Mandi Hari Raya
  2. Mandi Ihrom
  3. Mandi Masuk Mekkah
  4. Mandi Ketika Sadar Dari Pingsan
  5. Mandi Ketika Ingin Mengulangi Jima’
  6. Mandi Wanita Istihadhah
  7. Seputar Mandi Setelah Memandikan Mayat.

eBook ini yang versi CHM memuat berbagai hal tentang Thoharoh termasuk seputar Mandi, dan versi DOC dan PDF hanya memuat seputar Mandi.

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Seputar Mandi Jum’at

Nama eBook: Seputar Mandi Jum’at
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Amma ba’du:

Setelah diposting tentang hal-hal yang mewajibkan mandi dan sifat mandi, maka dikesempatan ini akan dijelaskan seputar masalah Mandi Jum’at, Syariat mandi pada hari Jum’at untuk orang yang akan menghadiri shalat Jum’at disepakati oleh kaum muslimin, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu a’alaihi wasallam:

مَنْ أَتَى الْـجُمُعَةَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ لَـمْ يَأْتِهَا فَلَيْسَ عَلَيْهِ غُسْلٌ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

“Barangsiapa menghadiri shalat Jum’at baik laki-laki maupun perempuan, maka hendaklah ia mandi. Sedangkan yang tidak menghadirinya –baik laki-laki maupun perempuan-, maka ia tidak punya keharusan untuk mandi”. (HR. Al Baihaqi, An Nawawi mengatakan bahwa hadits ini shahih).”

Hanya saja apakah hukmnya wajib atau hanya sekedar mustahab, maka para ulama berselisih dalam hal ini; disamping hukum mandi Jum’at dan dalil-dalilnya pada eBook ini juga diulas kapan waktunya mandi Jum’at serta apakah mandi Jum’at dapat digabung dengan mandi junub, silahkan simak selanjutnya eBook ini…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Najis dan Cara Mensucikannya

Nama eBook: Bab: Najaasaat: Najis dan Cara Membersihkannya
Penulis: Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أما بعد

Penulis berkata:

An-Najaasaat adalah bentuk plural dari najasah, yaitu semua yang dianggap menjijikkan oleh orang yang bertabiat normal. Mereka menjaga diri darinya dan mencuci pakaian mereka jika terkena olehnya, seperti kotoran dan air seni.

Hukum asal segala sesuatu adalah boleh dan suci. Barangsiapa menyatakan najisnya suatu materi, maka ia harus mendatangkan dalil. Jika sesuai, maka ia benar. Namun bila tidak bisa, atau ia membawakan sesuatu yang tidak bisa dijadikan hujjah, maka kita wajib mengikuti hukum asal dan al-bara-ah al-ashliyyah (yaitu seorang hamba tidak dikenai kewajiban hukum hingga datangnya dalil.-ed). Karena hukum najis adalah hukum pembebanan yang terkait dengan (seharusnya diketahui) semua orang. Maka, tidak boleh mengatakan tentang najisnya sesuatu kecuali dengan dalil.

Kemudian Syaikh menyebutkan macam-macam najis dan selanjutnya menerangkan bagimana cara membersihkan/mensucikan najis tersebut, bahasan yang disampaikan Syaikh ringkas, padat dan mudah dimengerti, Insya Allah…

Download:
Download CHMatau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word

Tata Cara Mandi Wajib

Nama eBook: Tata Cara Mandi Wajib
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Amma ba’du:

Telah kita posting eBook yang menerangkan hal-hal yang mengharuskan mandi wajib, kali ini akan diketengahkan Tata Cara (Sifat) Mandi Wajib, pada eBook ini penulis akan menjelaskan antara lain:

  1. Syarat Sah Mandi
  2. Rukun Mandi
  3. Detil Tata Cara Mandi
  4. Tata Cara Mandi Bagi Wanita
  5. Apakah ada Wudhu’ setelah Mandi, dan
  6. Menggunakan Handuk Setelah Mandi

Semoga hal ini dapat kita mengerti dan amalkan karena thaharah sangatlah erat hubungannya dengan sahnya amal ibadah lainnya…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word

Penyebab Mandi Wajib

Nama eBook: 5 Hal yang Mewajibkan Mandi
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal حفظه الله

Segala puji bagi Allah, pujian yang terbaik untuk-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Amma ba’du:

Saat ini kami akan menjelaskan beberapa hal yang berkenaan dengan mandi (al ghuslu). Yang dimaksud dengan al-ghuslu secara bahasa adalah mengalirkan air pada sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan al-ghuslu secara syari’at adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus. Ibnu Malik mengatakan bahwa al ghuslu (dengan ghoin-nya didhommah) bisa dimaksudkan untuk perbuatan mandi dan air yang digunakan untuk mandi.

Pada eBook ini penulis mengajak kita mengkaji beberapa hal yang mewajibkan seseorang untuk mandi (al ghuslu), hal ini sangatlah penting untuk kita ketahui karena ini berhubungan dengan ibadah kita sehari-hari…

Download:

Download CHM atau Download ZIP atau Download PDF atau Download Word